June 20, 2026
GAYA HIDUP HEADLINE

Hiking ke Bukit Paniisan Sentul: Dua Jam Menantang Napas, Terbayar Panorama Indah dari Puncak

Elvy   Yusanti
  • June 20, 2026
  • 7 min read
Lelah jalan nanjak 2 jam disuguhi pemandangan hijau nan cantik. Foto: Elvy Yusanti

bacalah.id – Sentul memang tidak pernah kehabisan destinasi untuk para pencinta alam. Dari sekian banyak jalur hiking yang populer, Bukit Paniisan menjadi salah satu tujuan favorit bagi mereka yang ingin menikmati pendakian singkat dengan pemandangan yang memukau.

Rabu (17/6/2026), saya bersama sahabat, Nurfani, memutuskan mencoba hiking ke Bukit Paniisan yang berada di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor. Awalnya kami mengira jalurnya akan santai karena hanya berupa bukit. Ternyata, trek menuju puncaknya cukup menguras tenaga dan membuat napas tersengal-sengal. Namun seperti kata para pendaki, pemandangan terbaik memang sering berada di ujung tanjakan.

Mengenal Bukit Paniisan, Surga Hiking di Sentul

Bukit Paniisan berada di kawasan Babakan Madang, Sentul, Bogor. Bukit ini memiliki ketinggian 846 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan menjadi salah satu spot favorit untuk hiking maupun menikmati panorama perbukitan hijau khas Sentul.

Dari puncaknya, pengunjung dapat melihat hamparan perbukitan, lembah hijau, hingga kawasan hutan yang masih cukup terjaga. Karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Jakarta dan sekitarnya, Bukit Paniisan menjadi pilihan tepat untuk aktivitas wisata alam sehari tanpa harus mengambil cuti panjang.

Mengenai asal-usul namanya, belum banyak referensi resmi yang menjelaskan sejarah Bukit Paniisan. Namun dalam bahasa Sunda, kata paniisan kerap dikaitkan dengan tempat berteduh atau tempat beristirahat. Bisa jadi nama tersebut berasal dari fungsi kawasan ini sebagai lokasi persinggahan masyarakat yang melintas di wilayah perbukitan pada masa lalu.

Memulai Perjalanan dari Parkiran Ibu Sofiah

Jalur hiking di Bukit Paniisan sangat jelas, petunjuknya juga banyak dan ada warung di setiap pos. Foto: Elvy Yusanti

Perjalanan kami dimulai dari Parkiran Ibu Sofiah, salah satu titik parkir yang banyak digunakan pendaki. Fasilitas di sini cukup lengkap. Tersedia mushola, toilet, hingga warung makan untuk mengisi tenaga sebelum mendaki. Tarif parkir juga cukup terjangkau, motor: Rp15.000, mobil: Rp25.000

Dari area parkir, kami berjalan menuju gerbang masuk untuk membeli tiket. Harga tiket masuk Bukit Paniisan adalah Rp20.000 per orang. Menariknya, Bukit Paniisan ternyata buka cukup lama. “Kalau malam banyak juga yang hiking, Kak. Di sini aman,” ujar penjaga loket. Menurut informasi dari pengelola, kawasan ini dibuka mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.

Trek Menanjak yang Bikin Napas Tersengal

Kami mulai hiking sekitar pukul 08.30 pagi. Belum lama berjalan, tantangan langsung terasa. Jalur menuju puncak didominasi tanjakan dengan kontur bebatuan. Jalan datar sangat jarang ditemui. Hampir sepanjang perjalanan, kaki dipaksa terus menanjak. Beberapa kali saya harus berhenti sejenak untuk mengatur napas. Bagi yang jarang berolahraga, trek ini cukup menguji stamina.

Meski begitu, jalurnya relatif aman dan ramah bagi pendaki pemula karena sudah sangat jelas. Di sepanjang perjalanan tersedia papan petunjuk arah sehingga kemungkinan tersesat hampir tidak ada. Cuaca saat itu juga sangat bersahabat. Matahari tidak terlalu terik sehingga perjalanan terasa lebih nyaman.

Namun saya sempat membayangkan jika hujan turun saat pendakian berlangsung. Jalur bebatuan yang didominasi tanjakan kemungkinan akan berubah menjadi licin dan cukup berbahaya.

Jangan Takut Kelaparan, Banyak Warung di Sepanjang Jalur

Es markisa seharga Rp 10.000 dan gorengan Rp 2.000 terenak, karena dinikmati setelah lelah berjalan 2 jam sambil menikmati pemandangan cantik. Foto: Elvy Yusanti

Salah satu hal yang menyenangkan saat hiking di Bukit Paniisan adalah banyaknya warung yang berjejer di beberapa titik jalur, sekalian bisa beristirahat sebelum sampai ke puncak. Jadi, pendaki tidak perlu membawa makanan terlalu banyak dari rumah.

Setelah dua jam berjalan, segelas es markisa di puncak terasa seperti hadiah yang sangat layak diterima. Rasanya segar, sedikit asam, dan benar-benar menghilangkan dahaga setelah perjalanan panjang.

Harga makanan dan minuman juga masih ramah di kantong. Beberapa harga yang saya temui antara lain, air mineral Rp8.000, Pisang buah Rp2.000, semangka potong  Rp5.000, gorengan hangat  Rp2.000 per potong, es markisa Rp10.000 per gelas dan kelapa muda per buah Rp20.000. Bonusnya, kalian bisa minta tolong difotoin sama pedagangnya. Sepertinya mereka sengaja membekali dengan keterampilan memotret dengan ponsel, karena hasil fotonya cakep-cakep.

Keluarga dari Sepatan yang Menginspirasi

Keluarga dari Sepatan, Tangerang dengan 3 anaknya yang menginspirasi. Foto: Elvy Yusanti

Di tengah perjalanan, saya bertemu sebuah keluarga muda yang membuat saya kagum. Mereka datang dari Sepatan, Tangerang. Agar bisa sampai pagi di Sentul, mereka bahkan sudah berangkat dari rumah sejak pukul 04.00 dini hari. Yang lebih mengagumkan lagi, mereka membawa tiga anak sekaligus.

Anak pertama berusia sekitar 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD, anak kedua berusia 4 tahun, sedangkan si bungsu masih balita. Balita itu digendong bergantian oleh ayah dan ibunya. Anak usia empat tahun sesekali berjalan sendiri lalu minta digendong ketika mulai lelah. Sementara sang kakak berjalan mandiri sepanjang jalur dengan wajah ceria.

Pemandangan itu terasa begitu menyenangkan. Di saat banyak anak menghabiskan akhir pekan dengan gawai, keluarga ini justru mengenalkan anak-anak mereka pada alam, pepohonan, udara segar, dan pengalaman petualangan yang tak akan mereka dapatkan di dalam mal. Keren sekali!

Bertemu Yanti dan Alin, Pendaki dari Cibinong

Yanti dan Ali, motoran dari Cibinong. “Trek Bukin Paniisan lebih menantang dibanding saat saya ke Hutan Cisadon,” kata Alin. Foto: Elvy Yusanti

Perjalanan hiking memang selalu menghadirkan cerita dan teman baru. Dalam perjalanan saya juga bertemu dua perempuan asal Cibinong, Yanti dan Alin, yang datang menggunakan motor lalu melanjutkan hiking menuju puncak.

Keduanya mengaku cukup terkejut dengan medan Bukit Paniisan. “Pas naik napas kayak mau habis. Pas turun, dengkul sama telapak kaki yang kena,” ujar Alin sambil tertawa.

Menurut Yanti, jalur menuju Bukit Paniisan lebih menantang dibandingkan jalur menuju Hutan Cisadon yang pernah ia datangi sebelumnya. “Kalau dibanding Cisadon, jalur di sini lebih bikin ngos-ngosan,” katanya. Mendengar cerita mereka, saya jadi penasaran untuk mencoba hiking ke Hutan Cisadon suatu saat nanti.

Panorama Puncak yang Membayar Semua Lelah

Sekitar dua jam setelah memulai perjalanan, akhirnya kami sampai di puncak. Dan seperti yang sering terjadi dalam setiap pendakian, semua rasa lelah seakan hilang begitu melihat pemandangan di depan mata. Perbukitan hijau membentang sejauh pandangan. Angin bertiup sejuk. Langit biru berpadu dengan awan putih yang bergerak perlahan. Tidak heran banyak orang rela datang jauh-jauh hanya untuk menikmati suasana ini.

Saya dan Nurfani memilih duduk cukup lama sambil menikmati es markisa dan pemandangan yang tersaji tanpa batas. Kami sengaja hiking di hari kerja agar bisa leluasa menikmati pemandangan, kalau weekend, nyerah deh. Bukan Cuma jalanan di Kawasan Sentul yang macet, tetapi juga jalur hikingnya padat pendaki. “Bahkan mau foto aja bisa antri panjang,” kata salah satu pemilik warung.

Cara ke Bukit Paniisan dengan Transportasi Umum

Bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi, Bukit Paniisan tetap bisa dijangkau menggunakan transportasi umum. Rutenya cukup sederhana, naik KRL turun di Stasiun Bogor, lanjut naik angkot 03 menuju Botani Square dengan tarif sekitar Rp5.000. Dari Botani Square, naik Trans Pakuan atau bus jurusan Bogor-Blok M turun di kawasan Bellanova Mall. Lanjut menggunakan ojek online menuju titik awal pendakian.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan. Saat pulang dari Bukit Paniisan, cukup sulit mendapatkan kendaraan online karena sinyal dan lokasi yang berada di kawasan perbukitan. Sebaiknya buat janji terlebih dahulu dengan pengemudi untuk menjemput saat perjalanan pulang.

Jika tidak memungkinkan, tersedia jasa ojek lokal dengan tarif sekitar Rp50.000 menuju titik yang lebih mudah dijangkau kendaraan online atau transportasi umum. Sekilas tarifnya memang terlihat mahal. Namun perjalanan pulang melewati kawasan hutan pinus dengan pemandangan yang indah. Pengalaman itu membuat ongkos yang dikeluarkan terasa sepadan.

Hiking yang Bukan Sekadar Olahraga

Hiking ke Bukit Paniisan nggak sekadar olahraga, tapi dapat view indah dan teman baru. Foto: Dok Elvy Yusanti

Perjalanan ke Bukit Paniisan memberi saya lebih dari sekadar olahraga. Saya mendapatkan udara segar, panorama alam yang indah, pengalaman baru, bertemu orang-orang yang inspiratif, hingga mendapat teman baru selama perjalanan.

Bukit Paniisan membuktikan bahwa kebahagiaan kadang hadir dari hal-hal sederhana, berjalan kaki menembus tanjakan, berkeringat, mengatur napas, lalu duduk menikmati pemandangan dari ketinggian. Dan ketika perjalanan berakhir, satu pikiran muncul di kepala, next hiking kemana lagi ?

Mungkin lain kali saya akan mengikuti rekomendasi Yanti untuk menjajal jalur menuju Hutan Cisadon. Sebetulnya saya sudah pernah kesana saat hiking ke Curug Penyantelan, namun nggak ada salahnya dicoba lagi ke destinasi yang berbeda. Karena ternyata, sekali jatuh cinta pada hiking di Sentul, rasanya ingin terus mencari jalur berikutnya untuk ditaklukkan. ***

Elvy   Yusanti
About Author

Elvy   Yusanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *