Voice of Baceprot Band Indonesia Pertama yang Tampil di Glastonbury

bacalah.id – Grup band metal Voice of Baceprot mencetak sejarah bagi Indonesia setelah menjadi band pertama Tanah Air yang tampil dalam Festival Glastonbury di Inggris.
Dikutip dari BBC, band metal yang terdiri atas tiga gadis muda asal Jawa Barat; Marsya (24), drummer Euis Siti Aisyah (24) dan bassis Widi Rahmawati (23), itu tampil pada Jumat (28/6) di area Woodseas pukul 11.30 – 12.15 waktu setempat.
Dalam wawancara dengan BBC, Voice of Baceprot mengaku bingung ketika mengetahui bahwa mereka diundang ke festival Glastonbury tahun ini.
“Karena kami tidak tahu betapa menariknya [festival ini]… Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan selanjutnya,” ujar vokalis yang bernama lengkap Firdda Marsya Kurnia itu.
Tekanan semakin bertambah setelah ketiganya menyadari bahwa mereka akan menjadi band Indonesia pertama yang tampil di festival musik terbesar di Eropa tersebut. Penampil utama di festival yang berlangsung selama lima hari ini antara lain Coldplay dan Dua Lipa.
Bahkan Dua Lipa tampil pada hari yang sama dengan mereka meskipun di panggung yang berbeda.
Baceprot, yang berarti “suara bising” dalam bahasa Sunda, salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di Indonesia, telah melalui perjalanan panjang sejak sekolah di desa mereka 10 tahun yang lalu, sebelum mencapai titik yang membanggakan ini.
Mereka telah menjadi berita utama di dunia internasional karena menantang norma-norma gender dan agama, dan telah melakukan tur internasional, termasuk di Eropa dan Amerika Serikat.
Mereka juga telah dipuji oleh orang-orang seperti Rage Against the Machine, yang gitarisnya, Tom Morello, mengatakan bahwa ia menonton salah satu video mereka “10 kali berturut-turut dan terpesona olehnya”. Flea dari Red Hot Chilli Peppers pernah men-tweet, “Saya sangat terpukau dengan Voice of Baceprot.”
Namun Glastonbury akan menjadi panggung terbesar mereka.
Tumbuh besar di kota pedesaan Singajaya di provinsi Jawa Barat, Indonesia, Marsya dan Siti berteman sejak sekolah dasar. Mereka bertemu Widi di sekolah menengah pertama – di kantor bimbingan konseling (BK) sekolah di mana mereka sering dipanggil karena “perilaku memberontak”.
Di tempat yang tidak biasa inilah kecintaan mereka terhadap heavy metal berakar. Mereka menjalin persahabatan dengan guru BK sekolah, Abah Ersa.
“Kami mendengarkan musik dari laptop guru BK kami, Abah Ersa… Kami merasa terpacu adrenalinnya saat mendengarkan musik heavy metal dan kami berpikir, akan sangat keren jika kami bisa meng-cover lagu-lagu itu,” kata Siti.
Ersa mengatakan bahwa ia menyadari bahwa anak-anak ini tidak memberontak seperti remaja lainnya, yang mungkin menggunakan narkoba atau terlibat masalah. Sebaliknya, mereka sering menyuarakan apa yang mereka rasa tidak adil di sekolah.
“Mereka menentang sistem dan sering berselisih dengan guru mereka. Pernyataan mereka kemudian dianggap provokatif,” katanya.
Pada 2014, Ersa mendorong anak-anak perempuan itu untuk mengekspresikan emosi mereka melalui musik. Ia memperkenalkan Marsya pada gitar, Widi pada bass, dan membuatkan Siti drum darurat dengan menggunakan bagian-bagian yang tidak terpakai dari marching band sekolah.
“Kami membiarkan kemarahan kami mengalir melalui musik… karena kami tidak ingin mendapat masalah dengan marah-marah kepada orang lain.
“Jika kami protes, itu akan menjadi masalah. Kami akan dituduh radikal. Di kampung kami, perempuan yang protes akan disebut gila,” kata Marsya, yang paling supel di antara ketiganya.
Saat itu, bermain musik juga memotivasi mereka untuk pergi ke sekolah, tambahnya.
“Kami hanya diminta untuk mendapatkan nilai yang bagus… menghafal, menulis, membolak-balik buku, itu saja. Ini adalah rutinitas harian kami selama 12 tahun. Kami merasa bosan. Lalu, ada musik. Itu adalah sesuatu yang baru.”
Band ini menganggap Ersa sebagai pendiri mereka. Dia adalah orang pertama yang mempublikasikan musik mereka di YouTube. Saat ini, mereka memiliki 360.000 pelanggan di YouTube dan 230.000 pengikut di Instagram.










