April 15, 2026
BERITA HEADLINE INTERNASIONAL PILIHAN

Perundingan AS-Iran Buntu, Nasib Gencatan Senjata Timur Tengah Terancam

  • April 12, 2026
  • 2 min read

Petugas hotel memindahkan billboard bertuliskan Islamabad Talks yang digelar untuk mendamaikan Amerika Serikat dan Iran. Foto: Tangkapan layar video di @falconupdatesHQ

bacalah.id — Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan, sehingga menimbulkan keraguan besar atas keberlanjutan gencatan senjata dua minggu yang rapuh dalam perang di Timur Tengah.

Washington menyatakan bahwa pembicaraan tersebut terhenti karena Teheran menolak berkomitmen untuk menghentikan program senjata nuklir mereka. Di sisi lain, pihak Iran menyebut adanya celah perbedaan pendapat yang lebar mengenai beberapa isu krusial.

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi Amerika, seperti dikutip IrishTimes.com menegaskan urgensi komitmen nyata dari Iran agar tidak mencari senjata nuklir maupun alat yang memungkinkan mereka mencapainya dengan cepat.

Sedangkan Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa status Selat Hormuz menjadi salah satu topik utama yang dibahas, sembari menyalahkan sikap AS yang dianggap terlalu menekan sebagai pemicu kegagalan kesepakatan.

Hingga saat ini, Minggu (12/4/2026) kedua belah pihak belum memberikan indikasi mengenai apa yang akan terjadi setelah masa gencatan senjata 14 hari tersebut berakhir.

Di tengah kebuntuan ini, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan kesiapan negaranya untuk memfasilitasi dialog baru guna memastikan para pihak tetap menjunjung tinggi komitmen gencatan senjata demi mencegah kerusakan lebih lanjut.

Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, konflik ini telah menelan ribuan korban jiwa dan merusak infrastruktur secara luas di berbagai negara Timur Tengah.

Selain dampak kemanusiaan, penguasaan Iran atas Selat Hormuz telah memutus jalur ekspor minyak dan gas utama dari Teluk Persia, yang mengakibatkan lonjakan harga energi global secara drastis.

Iran tetap pada usulan 10 poin mereka yang menuntut penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, sementara AS mengajukan 15 poin yang berfokus pada pembatasan nuklir dan pembukaan kembali jalur pelayaran di selat tersebut.

Situasi di Lebanon semakin memperumit keadaan, mengingat Israel terus melakukan serangan udara dan invasi darat meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Israel berargumen bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku di Lebanon, sementara Iran dan Pakistan mengklaim sebaliknya.

Di tengah ketegangan yang meningkat, perundingan terpisah antara Israel dan Lebanon dijadwalkan akan dimulai pada hari Selasa (14/2/2026) di Washington.

Namun, upaya diplomasi ini dibayangi oleh protes di Beirut dan tuntutan Israel agar pemerintah Lebanon bertanggung jawab atas pelucutan senjata Hizbullah, sebuah kelompok yang tetap eksis meski telah ditekan selama berdekade-dekade.

About Author

Kirana Ho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *