Tinggalkan Karir di Bank, Sukses Produksi Tas dan Suvenir
bacalah.id – Ada dua hal yang kerab dialami perempuan yang sudah berkeluarga. Memilih terus berkarir atau fokus mengurus keluarga menjadi ibu rumah tangga? Tentu dengan mempertimbangkan berbagai konsekwensi.
Indah Sari Anggraini (52), memilih menggabungkan keduanya. Menjadi full mother tetapi juga memiliki usaha yang ia jalankan dari rumah. “Tahun 2003 atas keputusan sendiri, tentu setelah berdiskusi dengan suami, saya memutuskan resign dari kantor, ” kata Indah kepada Terakota, Senin belum lama ini.

Sebelum resign, Indah bekerja di sektor perbankan. Ingin dekat dengan 2 anaknya, Nalendra dan Ninda, yang waktu itu mulai memasuki usia sekolah adalah alasan utama Indah meninggalkan dunia kerja.
“Waktu itu saya berpikir, sebagai ibu ingin menyaksikan tumbuh kembang anak-anak. Alhamdulillah saya happy full di rumah sambil menekuni usaha sampai anak-anak kuliah,” Ungkapnya.
Buka Usaha Tas
Perjalanan Indah sampai menemukan passion, memproduksi tas dan aneka souvenir cukup panjang dan berliku. Diakuinya, tidak lagi bekerja kemudian mengisi waktu luang dengan membuka usaha bukan hal mudah, terutama memutuskan usaha apa yang akan ditekuni. Indah bukan tipe yang cuma bisa diam, di sela mengurus keluarga dia memulai berjualan baju , ikut bazar, sampai pernah sewa kios di sebuah mal di Depok. “Saya bergabung dengan komunitas UMKM, ikut seminar untuk menambah wawasan serta kursus menjahit, ” Papar Indah.

Tahun 2015 adalah tahun penting bagi Indah. Ia mulai percaya diri untuk memproduksi dengan menjahit sendiri pouch dari perca untuk dijual. Ia menyisihkan tabungan sebesar satu juta untuk memulai usahanya. Setelah pouch, kemudian ia memproduksi tas dan mulai membuat brand dengan nama kaTuna.
Produk Indah untuk segmen wanita menengah atas dengan harga tas dibandrol Rp 250-500 ribu. Tas dengan desain simple untuk menemani aktivitas perempuan yang aktif awalnya ia jahit sendiri, lama kelamaan karena pesanan makin banyak ia mempekerjakan tukang jahit. “Jadi saya fokus di desain dan marketing, ” katanya.

Pembeli mulai melirik produknya yang awalnya ditawarkan kepada teman/keluarga, akhirnya melalui media sosial. Meskipun banyak tantangan yang ia hadapi, seperti penjualan menurun, putar otak untuk membuat design yang lebih menarik dan ditinggal tukang jahit. “Tapi semua tantangan yang dihadapi saya jadikan pembelajaran dan semangat untuk fokus mengelola usaha,” ungkap Indah optimistis.
Setelah usaha tasnya berkembang, Indah mulai melebarkan sayap memproduksi souvenir untuk pernikahan sampai brand perusahaan. Kemudian Indah juga menjajaki peluang untuk menyediakan hampers. “Idenya saat pandemi, banyak orang mengirimkan paket untuk yang isoman. Saya juga terpikir, produk kaTuna bisa dijadikan hampers, ” ungkapnya.
Indah mengatakan, peluang untuk membuka usaha di rumah sangat luas, yang penting mau belajar dan kerja keras. Apalagi saat ini banyak ilmu yang bisa dipelajari melalui media sosial. “Memang harus ulet dan sabar, terutama soal marketing. Tapi di era berkembangnya media sosial, peluang untuk belajar terbuka luas karena platform pembelajaran banyak tersedia,” pungkas Indah.











