Ibu Hamil Jauhi Minuman Beralkohol, Karena Bisa Mengubah Wajah Bayi Anda!

bacalah.id – Para ibu hamil – dan juga perempuan yang utamanya tengah merencanakan kehamilan, harus menjauhi minuman beralkohol. Sebuah penelitian mengungkapkan, minuman beralkohol bisa mengubah wajah bayi Anda. Ngga percaya? Ini ulasannya!
Gambar Artificial Intelligence (AI) yang mengejutkan mengungkapkan bagaimana minum minuman beralkohol SEBELUM kehamilan bisa mengubah wajah bayi Anda.
Hanya satu gelas kecil wine dalam sepekan bisa berpengaruh pada penampilan bayi, dan itu terus terjadi seiring dengan bertambahnya usia sang bayi. Demikian temuan para peneliti terkait hal ini.
Hal ini disebabkan karena minuman keras bisa menyebabkan kelainan spektrum alkohol janin, yang memengaruhi pertumbuhan wajah di dalam rahim, bahkan merusak otak.
Sementara penelitian sebelumnya menunjukkan, minum minuman beralkohol SELAMA KEHAMILAN bisa menghasilkan hidung yang sedikit lebih pendek dan lebih ke atas pada anak-anak. Penelitian ini juga mengaitkannya dengan alkohol sebelum pembuahan.
Wajah Cermin Kesehatan Anak
“Saya mengatakan wajah sebagai ‘cermin kesehatan’, karena memang mencerminkan kesehatan keseluruhan seorang anak,” ujar Dr Gennady Roshchupkin dari Pusat Medis Erasmus di Rotterdam, Belanda, seperti dilansir The Sun.
“Paparan alkohol pada anak sebelum lahir, bisa memberi efek buruk yang signifikan pada perkembangan kesehatannya. Jika seorang ibu secara teratur minum minuman beralkohol dalam jumlah yang banyak, ini bisa menyebabkan gangguan spektrum alkohol janin, FASD, yang tercermin pada wajah anak-anak nantinya,” tambahnya.
Begini Gejala Penderita FASD
Data penelitian itu menyebutkan, pada tahun 2020 ada sebanyak 2,4 juta orang di Inggris yang diyakini mengalami FASD. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat dan masalah pada otak, dengan efek nyata pada perkembangan wajah di dalam rahim.
Ini menjadi kondisi seumur hidup tanpa obat, walau diagnosa dini bisa membantu meningkatkan perkembangan anak dengan obat-obatan untuk gejala, serta terapi perilaku dan pendidikan.
Gejala yang terjadi meliputi kesulitan belajar, ingatan dan perilaku, serta ADHD (attention deficit hyperactivity disorder)/gangguan mental yang membuat anak sulit memusatkan perhatian dan memiliki perilaku hiperaktif.
Masalah Ini Dipicu Kelalaian Para Ibu
Studi sebelumnya menunjukkan, hal itu disebabkan karena sang ibu gemar minum minuman beralkohol selama kehamilan, terutama untuk mereka yang merupakan peminum berat.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction, mengaitkan kondisi ini dengan alkohol – bahkan dalam jumlah kecil sekalipun.
Para peneliti menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisa gambar 3D pada lebih dari tiga ribu anak berusia sembilan tahun dan hampir 2.500 anak berusia 13 tahun.
Penelitiannya Dibagi dalam Tiga Kelompok
Kebiasaan minum ibu mereka dicatat dalam kuesioner yang diisi pada awal, pertengahan, dan akhir kehamilan.
Mereka dibagi menjadi tiga kelompok: mereka yang ibunya tidak minum sama sekali, mereka yang ibunya minum selama tiga bulan sebelum hamil tetapi berhenti selama itu, dan mereka yang terus-menerus minum.
Perubahan bentuk wajah pada anak-anak berusia sembilan tahun – termasuk ujung hidung yang naik, hidung yang pendek, dagu yang keluar dan kelopak mata bawah yang masuk – secara signifikan dikaitkan dengan ibu yang minum minuman beralkohol sebelum atau selama kehamilan.
Semakin banyak mereka minum, semakin jelas perubahannya. Meskipun hanya 12 gram alkohol dalam sepekan, atau setara dengan bir 330ml – akan bisa langsung ditemukan dampaknya.
Berhentilah Minum Minuman Beralkohol!
“Ada kemungkinan seiring bertambahnya usia anak, perubahan ini bisa berkurang atau dikaburkan oleh pola pertumbuhan normal,” tandas Roshchupkin.
“Namun, bukan berarti pengaruh alkohol terhadap kesehatannya juga hilang. Karena itu, sangat penting untuk menekankan, tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang aman selama kehamilan,” tegasnya.
“Disarankan untuk berhenti minum minuman beralkohol, bahkan sebelum pembuahan, untuk memastikan kesehatan ibu hamil dan janin yang sedang berkembang,” tambah Roshchupkin. ***











