Berburu Cempedak Goreng Sultan ke Petak Enam, Glodok

bacalah.id – Sebagai kota bisnis, Jakarta selalu menjadi daya tarik tersendiri. Seiring pembangunan sarana transportasi yang masif, ibukota Indonesia ini selalu berbenah dan membangun tempat wisata/kuliner baru untuk memanjakan wisatawan dan warga lokal.
Dengan pembangunan sarana transportasi baik MRT, Commuter Line, angkutan online dan busway yang mematok harga terjangkau, masyarakat bisa membahagiakan diri sendiri / keluarga dengan jalan-jalan ke berbagai tempat,
Salah satu kawasan yang bisa dikunjungi adalah Petak Enam, Glodok, Jakarta Barat. Ketika menyebur Petak Enam, mungkin kalian yang lama tinggal di Jakarta teringat Petak Sembilan, pasar di kawasan Pecinan di Glodok yang terkenal sejak dahulu kala. Nah Petak Enam juga kawasan pasar, yang menjadi daya tarik kulinernya. Petak Enam terkenal di kalangan anak muda dan populer di media sosial.
Pekan lalu, ditemani sahabat saya Woro, kami berkesempatan ke Petak Enam, penasaran dengan lokasi yang punya banyak pilihan jajanan untuk dicicipi. Menumpang Commuter Line dari Stasiun Depok Baru, kami turun di stasiun terakhir Jakarta Kota, kemudian jalan kaki menuju Petak Enam. Kawasan ini berada di Gedung Chandra Glodok – yang merupakan pusat perbelanjaan tertua yang berada di Jakarta dan masih berdiri sampai saat ini.
Berada di kawasan ini seperti kembali ke masa lalu karena pernah berkantor di kawasan kota. Menyusuri jalan menuju Petak Enam, menyaksikan para pelukis berjejer di trotoar, dan sejumlah pedagang batu akik yang sore itu dipenuhi pembeli yang semuanya pria. Ya, kawasan ini memang dijadikan tempat mangkal bapak-bapak yang berbelanja cincin atau sekadar bersantai sambil merokok.
Setelah lebih kurang 10 menit berjalan, akhirnya sampai di Gedung Chandra Petak Enam. Saya seperti menemukan atmosfer baru di gedung ini. Tempat yang dipenuhi makanan dengan tempat duduk di tengah-tengah diwarnai paduan nuansa tempo dulu dan kekinian. Tentu saja dengan ambiance ala pecinan, pernak pernik khas orang Tionghoa dengan warna merah.

Rela Antre Demi Cempedak Sultan
Salah satu makanan yang ingin kami coba adalah Cempedak Goreng Cik Lina yang jadi salah satu kuliner favorit di Petak enam. Menyaksikan antrean yang mengular sebetulnya agak malas juga ya, tapi karena penasaran dan kapan lagi bisa makan Cempedak Sultan maka saya rela mengantre. Sebetulnya saya pernah makan Cempedak dari pohon yang tumbuh di perumahan tempat saya tinggal. Buahnya mirip Nangka tapi lebih kecil, harumnya khas, dan kalau digoreng dengan campuran tepung seperti untuk menggoreng pisang, rasanya enak dan agak manis.
Antreannya cukup panjang, dan saya menunggu lebih kurang 10 menit untuk bisa mencicipi Cempedak Goreng Cik Lina. “Kalau Sabtu-Minggu memang antre. Saya nggak berhenti nggoreng sejak pagi,” kata anak muda yang menjaga lapak Cempedak Cik Lina.

Bersama satu rekannya, ia terlihat terampil. Memasukkan adonan yang sudah bercampur Cempedak ke dalam penggorengan. Kemudian memindahkan Cempedak setengah matang ke penggorengan lain yang ukurannya lebih besar, lalu mengangkat ketika warnanya berubah kecoklatan, meniriskan, memotong, memasukkan ke wadah kertas dan menambahkan gula cair yang dibungkus plastik es.
Kenapa saya sebut Sultan? Karena harganya lumayan mahal, Rp 25 ribu per potong. Ukurannya memang agak besar dan harumnya menusuk hidung. “Saya penasaran baru pertamakali beli. Lumayan juga ya harganya, hehehe,” kata ibu separuh baya yang antre di depan saya.
Tidak ada yang spesial dari Cempedak Goreng Cik Lina ketika saya cicipi. Bedanya dengan Cempedak goreng yang pernah saya makan, Cik Lina menggunakan Cempedak yang matangnya sempurna, sehingga kalau digigit langsung putus. Sementara jika menggunakan Cempedak yang kurang matang jika digigit masih terasa seratnya.

Cempedak Cik Lina berjualan sejak tahun 1997. Satu hal yang membuat Cempedak Goreng Cik Lina dicari karena memang makanan ini sudah langka. Maka, para pengunjung Petak Enam seakan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba jajanan ini.
Selain Cempedak Goreng, jajanan yang hits lainnya adalah Pempek Eirin yang sudah berjualan sejak tahun 1981, Laksatiam, Soto Betawi H. Mamat, Kuotie Shantung Ling. Kalasey Makanan Manado, dan masih banyak lagi. Buat yang muslim, jangan khawatir, makanan di Petak Enam ini sebagian besar halal.
Jika kalian ingin ke Petak Enam, rutenya terbilang mudah. Kalau naik KRL commuter line, turun di Stasiun Jakarta Kota lalu berjalan kaki sekitar 800 meter. Atau bisa naik Trans Jakarta turun di halte Glodok dan jalan kaki sekitar 500 meter. Nah, kalau kalian ingin kulineran dengan atmosfer yang berbeda, datanglah ke Petak Enam Glodok. Kuy !











