Wartawan Istana Menulis Buku “79 Kisah di balik Liputan Istana

bacalah.id – Sebanyak 79 kisah yang ditulis 52 wartawan dan mantan wartawan istana terangkum dalam buku “79 Kisah di balik Liputan Istana” yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Buku yang berisi kisah-kisah yang belum pernah terpublikasikan ini mendapat perhatiaan dari para wartawan senior yakni J. Osdar, Maria Hartiningsih dan Debra Yatim.
Dalam acara bedah buku yang dihelat Pusat Kajian Hang Lekir Maret lalu, Maria Hartiningsih menilai buku ini menarik dan layak masuk dalam list bacaan wajib. “Banyak kisah-kisah yang menarik, di antaranya cerita tentang Puding Mangga yang menjadi suguhan di Istana, Sopir Presiden dan Rahasia Jalan irian dan juga untold story di balik demo kepada presiden Soeharto di Dresden, Jerman,” kata Maria.
Maria mengatakan, buku ringan ini bisa menambah wawasan dan pemahaman pembaca bahwa Istana Presiden tidak seseram yang dibayangkan. “Sayangnya dalam buku ini ceritanya serba indah dan hubungan antara media dengan presiden baik-baik saja. Tidak ada tulisan yang berupa kritik kepada penguasa,” ujar mantan wartawan Harian kompas dan penulis buku “Jalan Pulang” ini.
Mantan wartawan istana J. Osdar berpendapat buku “79 Kisah di balik Liputan Istana” ini menarik dan bisa menjadi catatan sejarah dari kacamata para jurnalis. “Dari tulisan para wartawan di era dimana mereka bertugas, terlihat bagaimana situasi politik saat itu. Buku ini sangat menarik, Anda wajib beli,” ungkapnya.
Osdar menambahkan, independensi wartawan terlihat di masa presiden siapa yang memimpin. Dan hal ini terlihat dalam buku yang diterbutkan Penerbit Buku Kompas (PBK) ini. “Di era Gus Dur wartawan bebas keluar masuk istana tanpa protokoler yang ketat. Karena memang Gus Dur ingin istana menjadi rumah rakyat. Anda mungkin bingung, istana kan sepertinya angker di era sebelumnya, saat Gus dur jadi presiden, bajaj bisa masuk istana dari pintu gerbang utama, demonstran bisa diterima masuk ke ruang kerja Gus dur,” papar Osdar,
Osdar mengibaratkan, Istana Presiden seharusnya bisa menampung aspirasi seluruh lapisan masyarat. Ia mengibaratkan Istana Presiden itu seperti sebuah kantor kelurahan besar yang tidak memiliki sekat dan bisa menjadi solusi permasalahan rakyat. “Suasana Istana Presiden seperti kantor kelurahan adanya di jaman Gus dur berkuasa,” ujarnya.
Buku “79 Kisah di balik Liputan Istana digagas oleh Maria Karsia dan disusun oleh Tingka Adiati, Tuti Marlina dan Elvy Yusanti. Kepada bacalah.id, Tingka Adiati mengatakan, awalnya buku ini ditulis sebagai ajang reuni wartawan istana yang kemudian disambut baik oleh PBK. “Kita sangat bersemangat mengumpulkan naskah teman-teman. Buku ini juga sebagai kado peringatan HUT RI Agustus 2024. Nah angka 79 di judul buku merujuk pada peringatan HUT RI ke-79,” pungkas Tingka. ***











