bacalah.id – Pangeran Diponegoro, sosok gagah berani yang sering digambarkan menunggang kuda, memimpin perang melawan penjajah Belanda sekitar 200 tahun lalu memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo Ia merupakan seorang bangsawan dari keluarga Keraton Ngayogyakarta, putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dengan selirnya, R.A. Mangkarawati, yang lahir pada 11 November 1785.
Dikutip dari tegalrejokec.jogjakota.go.id, Diponegoro adalah pemimpin Perang Jawa, pertempuran terbesar dalam sejarah kependudukan Belanda di Indonesia. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan mahir dalam bidang hukum Islam-Jawa. Kedekatannya dengan sang kakek, Sultan Hamengku Buwono I, serta sang eyang, Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo, membentuk kepribadiannya yang luhur dengan wawasan keagamaan luas. Kedekatan ini juga membuat Diponegoro lebih memilih tinggal di Tegalrejo bersama kakeknya dibanding menetap di keraton.
Pameran NYALA di Galeri Nasional

Untuk mengenang 200 tahun Perang Diponegoro, Kementerian Kebudayaan pada 22 Juli hingga 15 September 2025 menggelar pameran bertajuk NYALA di Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur, Jakarta. Pameran ini menampilkan berbagai karya seni seperti lukisan, patung, instalasi, sketsa, seni media, hingga artefak berupa arsip, naskah, koin, dan buku-buku terkait Perang Diponegoro.
Dua lukisan yang menjadi sorotan adalah karya perupa Raden Saleh dan Basoeki Abdullah, lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda serta lukisan Diponegoro menunggang kuda yang biasanya hanya bisa dinikmati tamu istana negara, kali ini dipinjamkan untuk dapat disaksikan langsung oleh pengunjung Galeri Nasional. Lukisan penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh (1814-1880) sangat terkenal, dilukis pada 1857 yang merekam peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro melalui kanvas pada 28 Maret 1830. Lukisan ini menunjukkan perlawanan Diponegoro yang sengit pada Belanda
Peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro ternyata telah lebih dulu diabadikan oleh pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman. Dalam karyanya, Diponegoro digambarkan seolah menyerah dan pasrah, dengan latar bendera Belanda yang berkibar sebagai simbol kemenangan penjajah.

Dikutip dari website museumdiponegoro.com karya Raden Saleh merupakan lukisan balasan terhadap karya Nicolaas Pieneman. Raden Saleh merasa karya dari Nicolaas Pieneman merendahkan bangsa Indonesia. Judul dari lukisan karya Nicolaas Pieneman “ De Onderwerping van Diepo Negoro aan luitenat-generaal De Kock” yang artinya Penyerahan Diponegoro kepada Letnan Jendral De Kock “ sedangkan lukisan Raden Saleh berjudul “ Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Kata penangkapan menggambarkan bahwa Pangeran Diponegoro tidak tunduk dengan Belanda
Pangeran Diponegoro digambarkan oleh Nicolaas Pineman dengan wajah yang lesu dan pasrah sedangkan Raden Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pada karya Pieneman terdapat bendera Belanda tetapi karya Raden Saleh tidak terdapat bendera Belanda. Pada lukisan Raden Saleh, beliau menggambarkan dirinya juga ikut serta dalam penangkapan tersebut. Lukisan karya Raden Saleh diangkat statusnya menjadi Cagar Budaya Nasional dan saat ini disimpan di Istana Negara

Menghidupkan Kembali Semangat Diponegoro
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pembukaan pameran menyampaikan: “Kementerian Kebudayaan mempersembahkan pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, sebuah pameran seni dan sejarah yang mengangkat kembali makna perjuangan Diponegoro melalui perspektif visual, artistik, dan interdisipliner.”
Menurutnya, pameran ini menjadi bentuk komitmen museum dan cagar budaya untuk merawat warisan sejarah bangsa, sekaligus menghidupkannya kembali agar bisa diakses, dimaknai, dan menjadi sumber inspirasi generasi masa kini. Fadli Zon juga menegaskan bahwa Perang Diponegoro merupakan perang terbesar dalam sejarah Indonesia, melibatkan puluhan hingga ratusan ribu orang melawan kolonialisme Belanda pada 1825–1830.
Generasi Muda Antusias
Petugas pameran NYALA, Dillah, menyebut bahwa sepanjang kegiatan, pengunjung terbanyak justru berasal dari kalangan muda, termasuk Gen Z. “Mereka tertarik datang ingin menyaksikan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam karya seni. Banyak juga pengunjung usia lanjut, namun yang terbanyak anak muda,” katanya, Minggu (15/9/2025).
Dua pengunjung Pameran NYALA, siswa SMA 28 Jakarta, Atthilah dan Farrel mengaku senang berkunjung ke Galeri Nasional. “Saya datang ke sini karena tertarik dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Memang niatnya mau ke Pameran NYALA. Menarik banget, dari karya para seniman tergambar bagaimana gigihnya Diponegoro berjuang melawan Belanda,” ujar Atthilah.
Akhir Perjuangan
Pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock menekan perlawanan pasukan Diponegoro hingga akhirnya sang pangeran menyerahkan diri. Penyerahan itu menandai berakhirnya Perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, mulai 1825 hingga 1830. Setelah ditangkap, Diponegoro diasingkan di Gedung Karesidenan Semarang di Ungaran, lalu dibawa ke Batavia pada 11 April 1830. Selanjutnya, ia dipindahkan ke Manado pada 30 April 1830 dan tiba di Benteng Nieuw Amsterdam pada 3 Mei 1830. Pada 1834, Diponegoro dipindahkan ke Makassar dan wafat di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855.
Tak heran jika Pangeran Diponegoro begitu ditakuti Belanda pada masanya. Ia bukan hanya pemberani dan gigih, tapi juga tidak gentar menghadapi senjata penjajah. Kini, semangatnya tetap hidup, menjadi inspirasi generasi muda untuk terus berani melawan segala bentuk ketidakadilan. ***











