April 15, 2026
BERITA HEADLINE INTERNASIONAL PILIHAN

AS dan Iran Gelar Pertemuan di Pakistan, Nasib Selat Hormuz Jadi Taruhan Utama

  • April 11, 2026
  • 4 min read

Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengadakan pertemuan dengan Yang Mulia JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, di sela-sela perundingan di Islamabad. Foto: X @GovtofPakistan

bacalah.id — Pejabat Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar pembicaraan terpisah dengan Perdana Menteri Pakistan pada hari ini Sabtu (11/4/2026), di tengah gencatan senjata yang disebut-sebut banyak kalangan rapuh akibat perbedaan mendalam dan pertempuran yang terus berlangsung di Lebanon.

Diberitakan Washington Post, Sabtu (11/4/2026), delegasi Amerika Serikat  dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf masing-masing akan bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Namun hingga Sabtu sore, belum ada pengumuman mengenai pembicaraan langsung antara AS dan Iran di Islamabad.

Sementara itu Iran menegaskan kembali sebagian dari proposal sebelumnya. Delegasinya mengatakan kepada televisi pemerintah Iran bahwa beberapa poin dalam rencana tersebut diajukan sebagai “garis merah” dalam pertemuan dengan Sharif.

Di sisi lain, Israel terus melancarkan serangan di Lebanon meskipun Iran mensyaratkan penghentian pertempuran di Lebanon sebagai bagian dari negosiasi. Kantor berita resmi Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel pada hari Sabtu menewaskan sedikitnya tiga orang.

Perang sendiri telah menewaskan sedikitnya 3.000 orang di Iran, 1.953 di Lebanon, 23 di Israel, dan lebih dari selusin di negara-negara Teluk Arab. Konflik ini juga hampir memutus kawasan Teluk Persia dari ekonomi global, menyebabkan harga energi melonjak dan merusak infrastruktur di sejumlah negara di kawasan tersebut.

Masih menurut Washington Post, pejabat AS dan Iran sama-sama mengklaim memiliki posisi kuat serta mengajukan tuntutan dan prasyarat baru menjelang negosiasi. Presiden Donald Trump berulang kali menulis di media sosial menjelang Sabtu, menyebut bahwa Iran “tidak memiliki kartu” dalam negosiasi.

“Satu-satunya alasan mereka masih ada hari ini adalah untuk bernegosiasi!” tulisnya.

Dalam unggahan terpisah, ia menuduh Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat pemerasan dan menyatakan bahwa jalur tersebut akan dibuka “dengan atau tanpa mereka.”

Islamabad tampak sepi pada hari Sabtu karena aparat keamanan menutup jalan dan pemerintah mengimbau warga tetap di rumah, membuat ibu kota Pakistan tersebut terlihat seperti berada dalam situasi jam malam.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengadakan pertemuan dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Yang Terhormat Ketua Majelis Permusyawaratan Islam Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dalam perundingan di Islamabad. Foto: X @GovtofPakistan

Wapres Vance mengatakan pada Jumat bahwa AS optimistis terhadap pembicaraan tersebut, namun ia memperingatkan: “Jika mereka mencoba mempermainkan kami, tim negosiasi tidak akan merespons dengan baik.”

Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Teheran memasuki negosiasi dengan “ketidakpercayaan mendalam” akibat serangan sebelumnya terhadap Iran dalam putaran pembicaraan terdahulu. Ia juga menegaskan bahwa Iran siap membalas jika kembali diserang.

Sebagaimana diberitakan, Iran dan Amerika Serikat mengajukan proposal yang saling bertentangan menjelang pembicaraan akhir pekan ini, mencerminkan perbedaan besar dalam isu-isu utama. Iran mengajukan proposal 10 poin yang mencakup jaminan berakhirnya perang, penghentian serangan di masa depan, penghapusan sanksi ekonomi, dan kendali atas Selat Hormuz.

Sementara itu, AS mengajukan proposal 15 poin yang mencakup pembatasan program nuklir Iran dan pembukaan kembali jalur tersebut.

Israel dan Lebanon akan melakukan negosiasi langsung

Di tengah pembicaraan antara Iran dan AS, negosiasi antara Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai pada hari Selasa pekan depan di Washington, demikian dilaporkan kantor Presiden Lebanon Joseph Aoun.

Israel menginginkan pemerintah Lebanon bertanggung jawab untuk melucuti senjata Hizbullah, sebagaimana direncanakan dalam gencatan senjata November 2024. Namun, belum jelas apakah tentara Lebanon mampu menguasai monopoli senjata atau menyita persenjataan  Hizbullah yang telah bertahan dari berbagai upaya pembatasan selama puluhan tahun.

Desakan Israel bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup penghentian pertempuran melawan Hizbullah berpotensi menggagalkan kesepakatan. Hizbullah memang terlibat dalam perang untuk mendukung Iran sejak hari-hari awal konflik.

Pada hari pengumuman gencatan senjata antara Iran dan AS, Israel melancarkan serangan besar ke Beirut yang menewaskan lebih dari 300 orang, seuah serangan  paling mematikan di negara itu sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.

Menanggapi serangan tersebut Trump mengatakan pada Kamis lalu bahwa ia telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengurangi intensitas serangan atas Lebanon.

Selat Hormuz tetap menjadi isu krusial

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi keunggulan strategis terbesarnya dalam perang ini. Kapal-kapal komersial menghindari jalur tersebut, yang secara efektif menghambat distribusi minyak, gas alam, dan pupuk.

Harga minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, mencapai sekitar $97 pada hari Jumat—naik lebih dari 30% sejak perang dimulai.

Sebelum konflik, sekitar seperlima minyak dunia yang diperdagangkan melewati selat tersebut setiap hari, melalui lebih dari 100 kapal, banyak di antaranya menuju Asia. Namun setelah gencatan senjata, hanya 12 kapal yang tercatat melintas.

Iran juga sempat mengusulkan untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan damai, namun gagasan ini ditolak luas oleh berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Oman.

About Author

Kirana Ho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *