
bacalah.id — Struktur perdagangan Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas penggunaan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction/LCT). Hal ini didukung oleh fakta bahwa mayoritas mitra dagang utama Indonesia merupakan negara dengan ekonomi non-dolar, yang tercermin dari surplus perdagangan konsisten sebesar USD1,27 miliar pada Februari 2026.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menyatakan bahwa Bank Indonesia bersama Pemerintah terus memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam sektor keuangan, serta mengurangi volatilitas nilai tukar demi memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
“Kerangka LCT Indonesia terus berkembang sejak diluncurkan pada 2018. Pemanfaatannya telah meluas ke berbagai sektor utama seperti manufaktur, energi, transportasi, hingga jasa,” ujar Ferry saat mewakili Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam agenda Bank of China Multilateral Business Dialogue di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Hingga awal 2026, transaksi LCT menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada periode Januari–Februari 2026, nilai transaksi mencapai USD8,45 miliar, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD3,21 miliar. Pertumbuhan ini juga diikuti oleh peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata bulanan yang jauh melampaui angka tahun 2025.
Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan kerangka LCT dengan enam mitra utama, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sendiri telah mencapai 10% hingga 19% dari total transaksi, menunjukkan ruang ekspansi yang masih sangat terbuka luas.
Untuk mengoptimalkan adopsi LCT, Pemerintah telah membentuk Gugus Tugas LCT Nasional yang melibatkan 10 kementerian dan lembaga. Melalui koordinasi ini, pemerintah berkomitmen menyediakan fasilitas dan insentif guna menyederhanakan proses bisnis bagi para pelaku eksportir maupun importir.
“Pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi serta pengurangan kerentanan eksternal. Melalui kolaborasi berkelanjutan, kita dapat membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan terintegrasi,” pungkas Ferry.











