Menikmati Nasi Liwet di Tengah Keindahan Lereng Gunung Salak
bacalah.id – Melepas penat berada di alam bebas tentu menyenangkan. Menghirup udara segar dengan hawa sejuk serta disuguhi pemandangan alam yang memukau dan sepiring Nasi Liwet. Pekan lalu, saya menginap di Rumah Kebun Immanuel yang terletak di lereng Gunung Salak, Cijeruk, Tajur Halang, Bogor.
Rumah kayu milik pasangan Yustinus dan Yurike ini awalnya hanya untuk peristirahatan pribadi. Seiring berjalannya waktu, lahan yang kosong bisa disewa untuk kemping. “Kami menyiapkan tenda, makan, dan mengantar ke lokasi curug dengan harga yang bersahabat. Selain itu kami juga bisa menyiapkan motor trail atau kendaraan untuk off road,” kata Yustinus.

Ia menjelaskan, Rumah Kebun Immanuel menyediakan berbagai paket dari yang paling murah, 100 ribu per orang tanpa menginap sampai paket kemping plus trekking. “Seratus ribu rupiah untuk yang hanya ingin menikmati pemandangan dan makan siang dengan menu khas seperti Nasi Liwet, Sambil Terong, Cumi Cabe Ijo atau Pepes Ikan,” papar Yustinus.
Di lokasi Rumah Kebun Immanuel, kita bisa menikmati pemandangan cantik dengan latar belakang Gunung Gede-Pangrango. Kita bisa menyaksikan “kemewahan”, disuguhi indahnya sunset dan sunrise sambil menyeruput susu segar dari peternakan setempat. Atau menikmati siang dengan semilir angin, ditemani kudapan sehat, potongan Nanas, Alpukat atau Es Kelapa muda hasil kebun warga sekitar.

Curug Pinus yang Menawan
Tak jauh dari Rumah Kebun Immanuel terdapat curug dengan airnya yang dingin dan jernih. Hari Minggu pagi, saya dan suami ditemani Mas Yustinus, Pak Mochtar dan Black, anjing berbulu krem milik Mas Yustinus .
Berangkat dari Rumah Kebun Immanuel pukul 07:00 wib, kami berjalan menyusuri hutan di lereng Gunung Salak selama lebih kurang 45 menit. Jalurnya cenderung menurun tapi agak licin, jadi jalannya harus berhati-hati. Wajib mengenakan sepatu trekking agar nyaman dan tidak mudah terpeleset. Sepanjang perjalanan kami melewati semak belukar yang lembab yang jarang dilalui orang.
Curug Pinus, menurut Pak Mochtar yang juga warga setempat belum banyak dikunjungi, maka kebersihannya masih terjaga. “Ya ada juga sih yang nggak tanggungjawab, kemping di sekitar curug tapi ninggalin sampah,” kata Pak Mochtar yang siang itu mendapati onggokan sampah plastik yang ditinggal pemiliknya.

Curug Pinus airnya cukup deras. Meski kubangnya tidak terlalu luas, namun cukup memanjakan pengunjung karena airnya yang jernih. Setelah puas berfoto dan “bermain air” kami meninggalkan curug, berjalan sekitar 200 meter menuju mobil jemputan yang dikemudikan Adi, staf Rumah Kayu Immanuel. Oiya, di sekitar curug ada banyak monyet yang terlihat bergelantungan di pohon menjadi hiburan tersendiri.
Perjalanan kembali ke Rumah Kebun Immanuel melintasi hutan Pohon Jati yang asri dan indah. Tak lupa kami berfoto dengan background Pohon Jati nan cantik dan tinggi menjulang. Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan belasan pengunjung dengan tujuan Curug Pinus.

Perjalanan dengan mobil kembali ke Rumah Kebun Immanuel memberikan sensasi tersendiri, sangat menyenangkan. Kami melewati warga sekitar yang sibuk beraktivitas dan juga para pesepeda yang tengah beristirahat. Duduk di bagian belakang mobil bak terbuka memberikan pengalaman tersendiri. Jadi teringat saat masa sekolah, seringkali pulang kemping bersama teman-teman dengan menumpang kendaraan bak terbuka.
Perjalanan ke Curug Pinus lumayan melelahkan tapi terbayar oleh pemandangannya yang indah. Ditambah sajian Nasi Liwet hangat dengan Sambal Terong pedas dan lauk Ikan Nila goreng kering yang sedap hasil masakan Teh Oyoh, sesampainya di Rumah Kayu Immanuel.
Nah, buat kalian yang ingin menikmati sejuknya hawa pegunungan, trekking tipis-tipis ke Curug Pinus, mau off road dengan mobil atau motor bisa booking ke Rumah Kebun Immanuel melalui IG-nya @rumahkebun_immanuel.











