May 26, 2026
HEADLINE INTERMEZO

UYM, Kopiah Awing dan Banana With Love

  • March 15, 2022
  • 3 min read

Myterakota – Selepas subuh, Sabtu (12/3/2022), Ustaz Yusuf Mansur (UYM) mengirim pesan. Rupanya dia baru menyaksikan wawancara saya dengan Novi Basuki, kandidat doktor asal Probolinggo, di Youtube. Tema perbincangan antara lain membahas soal Corona dan kehidupan beragama di China. Juga soal kondisi kaum muslim di Uighur. Itu wawancara lama sebetulnya, Mei 2020, ketika Corona baru sekitar dua bulan mewabah di Indonesia.

UYM meminta nomor kontak Novi. Mungkin dia ingin berdiskusi lebih intens tentang kondisi kaum muslim di China. Juga soal kehidupan para mahasiswa di sana. Maklum, selain banyak para santri dari pelosok pesantren NU di Jawa, “Ada belasan santri dari pesantren kami juga dapet beasiswa kuliah di beberapa kota di China,” kata pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran, Tangerang itu.
Saya bukan pengagum UYM. Seperti orang kebanyakan, saya juga termasuk yang kurang sreg dengan konsep sedekah dengan berharap ‘imbalan’ tertentu dari Allah SWT. Tapi galibnya wartawan, saya tetap menjaga hubungan baik dengan para narasumber.

Apalagi UYM tergolong narasumber yang tidak pelit untuk dimintai waktu wawancara. Asalkan kita juga siap menepati jadwal yang dia berikan. Hal lainnya, UYM tak pernah mengatur-atur angle berita yang akan ditulis. Juga tidak mutungan ketika tahu berita yang ditulis tentang dirinya menjadi kontroversial. “Semua pasti ada hikmahnya. Nikmatin aja,” begitu biasanya dia bereaksi.

Sabtu kemarin, selain nomor Hp saya juga mengirimkan sampul buku karya Novi yang sangat menarik untuk dibaca. Sinolog senior dari Universitas Indonesia, A. Dahana, memberi pengantar dan memujji karya Novi yang bertajuk, “Islam di China, Dulu dan Kini” tersebut. Sebab Novi banyak menyodorkan informasi dengan merujuk naskah-naskah kuno yang biasa ditulis dalam Bahasa Tiongkok klasik.

Pada bagian lain, saya juga sempat bercerita soal kopiah Awing yang biasa dikenakan UYM. Dia menghadiahkannya ke saya pada pertengahan Desember lalu. Saat itu dia membagikan topi biru bertuliskan “Cairo, Dubai, Maroco” kepada tetamu yang hadir. Lalu kami berfoto bersama dengan mengenakan topi tersebut, kecuali saya.

Ketika mengenakan topi, UYM otomatis mencopot kopiahnya. Semula saya cuma penasaran ingin tahu merek kopiah tersebut. “Kayaknya pas juga di elu, pake dah. Keren, beneran,” komentar UYM. Saat saya melepas kopiah tersebut, UYM tetap memaksa agar saya terus mengenakannya. “Gue masih ada beberapa, kok. Itu lu pake aja, keren,” ujarnya.

Foto: Dok Sudrajat

Semula kopiah itu saya pajang di meja kerja. Saya kenakan setiap kali akan salat di musala. Ketika akhir Januari kantor mulai lockdown, kopiah itu saya bawa dan diletakan di dashboard mobil isteri. Sesekali saya kenakan juga ketika mengemudi. “Pantes banget kamu berkopiah kayak gitu. Aku duduk di belakang ya,” canda isteri. Kepada UYM saya kirimkan foto saya berkopiah, dengan isteri di samping tengah mengemudi. “Kopiahnya kemarin saya pakai Jumatan di kantor,” ujar saya. UYM senang. “Kangen euy. Ngopi-ngopi yuk…”
Saya menampik, karena akhir pekan kemarin kena jadwal piket. Akhirnya UYM malah meminta alamat rumah saya. Dia mengaku baru panen pisang dan akan menggorengnya sebagian. Saya pikir basa-basi. Ternyata selepas hujan, sekitar pukul 16.30, pisang goreng dimaksud tiba di rumah saya. Diantar pasangan suami-isteri utusan UYM. Meski dikirim dari Tangerang, pisang masih terasa hangat. “Saya bungkus tebel, Pak. Biar tetep anget,” ujar si pengirim paket.
Saya kirim pesan ke UYM, mengabarkan bahwa pisang goreng sudah kami terima. “Maafin ya, receh. Tapi itu banana with love,” balasnya dengan emoticon ngakak. Barakallah UYM… (Sudrajat)

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *