March 25, 2026
HEADLINE WISATA

Menyantap Suguhan Suku Samin, Pindang Ikan Salem-nya Sedap Menggoda  

Elvy   Yusanti
  • July 21, 2022
  • 4 min read

bacalah.id – Jika  berkunjung ke satu daerah jangan lupa mencicipi makanan khasnya.  Tak sekadar sebagai pengisi perut, tetapi makanan tradisional memiliki sejarah dan menyimpan cerita tersendiri. Pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi dua perkampungan Samin yakni di Dukuh Blimbing, Sambong Rejo, Sambong dan di Klopoduwur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Samin berasal dari nama Ki Samin Surosentiko, penduduk Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Kabupaten Blora 1859 yang sangat disegani dan dihormati. Mengusung ajaran Sadulur Sikep, Samin yang mengobarkan perlawanan kepada penjajah Belanda tanpa kekerasan seperti menolak membayar pajak dan tidak menaati peraturan. (Wikipedia)

“Samin atau yang bernama asli Raden Kohar berasal dari Kediri lalu lari ke hutan terlebat, Ploso di Randu Blatung. Tahun 1907 ia ditangkap Belanda. Versi lain dari Prof Dr Suripan, Samin lahir  di Rajekwesi, Bojonegoro,” kata Soesilo Toer, adik Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, penulis 40 buku  yang kami temui di rumah Pramoedya,  Jalan Sumbawa, Blora, Senin (18/7).

Minggu (17/7), rombongan kami, bersama Bupati Blora H. Arief Rochman dan rombongan tiba menjelang makan siang di Kampung Samin Dukuh Blimbing. Perkampungan yang bersih, rapih dan disambut dengan hangat oleh warga Samin bersama  tetuanya Mbah Pramugi Prawiro Wijoyo yang didampingi istrinya Warsiyam.

Musik Lesung yang dimainkan enam ibu berkebaya hitam menjadi simbol penerimaan yang terbuka masyarakat Samin kepada para tamu. Suara Alu kayu yang beradu dengan Lesung dibuat berirama diiringi suara merdu tembang pujian kepada alam.

Tak hanya sapaan akrab penuh kekeluargaan, tak lama kemudian  satu demi satu makanan yang telah disiapkan terhidang di depan kami. Ada Talas Kukus,  Buah Semangka, Teh dan Kopi serta senampan penuh menu makan siang. Ada Ayam Goreng, Empal, Nasi Putih, Nasi Jagung, Tempe Goreng, Bakwan Jagung, Ikan Peda, Bothok Mlandingan, Pepes Ikan Salem, Sayur Menir, dan Sayur Gori Ikan Pari. Hmmmm, semuanya terlita menggoda.

Bothok Teri, Bakwan Jagung dan sedikit nasi putih saya pilih untuk mengawali makan siang itu.  Sudah lama sekali saya tidak makan Bothok Teri dengan Petai Cina atau Mlandingan. Rasanya gurih manis ada  harum kencur. Rasa yang sama dengan Bothok Teri buatan almarhum ibu saya saat tinggal di Malang. Bumbunya pas, gurih kelapa mudanya terasa dan tidak terlalu pedas. Rasanya makin sedap karena ada aroma Petai Cina.

Pindang Ikan Salem

Perhatian selanjutnya adalah Pindang Ikan, atas bujukan Mas Dimas Azi Soko Harmoko, putra Menteri Penerangan Era Presiden Soeharto  “Mbak, ini enak banget ikannya,” kata Mas Dimas.  Benar saja, kalau nggak kekenyangan, saya pasti pengen nambah lagi. Saya belum pernah makan pepes dengan jenis ikan seperti ini. Ikannya lembut dan gurih, rasanya bukan tongkol seperti pepes kebanyakan. Karena penasaran, saya bertanya resepnya pada Mbah Warsiyam.

“Bumbunya biasa saja, bawang merah,bawang putih, kemiri, cabe, dihaluskan. Pindangnya Ikan Salem, dihilangkan durinya, dibungkus daun ditambah kemangi. Dikukus lalu dibakar,” papar Mbah Warsiyam.

Saya juga mencicip Ikan Peda yang dimasak tumis dengan bawang merah, bawang putih dan cabai. Jika biasanya Ikan Peda terasa asin, menu ini berbeda. Tidak ada rasa asin seperti Ikan Peda kebanyakan. “Ikannya dihilangkan kepalanya, kulitnya lalu dijemur sebelum digoreng,” kata Mbah Warsiyam.

Di sela-sela makan siang, Mbah Pram mengenalkan makanan khas yang dihidangkan. “Cobain sayur Menirnya, enak banget  lho,”  katanya. Sayur Menir ala Samin adalah sayur bayam ditambah potongan papaya muda dan dilengkapi dengan jagung muda yang dihaluskan. Rasanya hampir sama dengan Sayur Bayam Bening, bumbunya bawang merah dan Temu Kunci. Karena jagungnya dihaluskan, maka kuahnya agak keruh. Dan ketika kuahnya  disruput rasanya enak segar,  cenderung manis. Aroma Temu Kuncinya  wangi.

Dari makanan yang saya cicip semuanya pas di lidah dan dibuat dengan resep orisinal khas menu rumahan tahun 1970-an dan mengingatkan saya pada menu yang disajikan almarhum ibu saat kecil. Menu yang ngangenin, dan sampai sekarang masih sering saya masak untuk suami dan anak-anak di rumah. Suguhan menu khas Suku Samin ini memberikan ikatan batin saya pribadi pada masyarakat Samin yang ramah dan menjunjung  ajaran menghargaan tertinggi untuk saling hormat kepada sesama.

Elvy   Yusanti
About Author

Elvy   Yusanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *