Myterakota – Sukses itu milik orang-orang yang berani gagal, ulet dan mau kerja keras. Suparlan (44), asal Blora, Jawa Tengah ini membuktikan, meskipun hanya lulus SMP, ia berhasil menjalankan usaha kerajinan kayu hingga dikirim ke luar negeri. Hebatnya lagi, usahanya bisa menmbuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Ditemui Terakota di bengkelnya, Suparlan berkisah, karena perekonomian orangtuanya nggak memungkinkan, lulus SMP 1 Jepon ia langsung bekerja di tempat pengrajin kayu jati tahun 1994. “Saya Cuma lulus SMP, orang tua nggak ada uang untuk melanjutkan sekolah. Maka saya memilih bekerja,” katanya kepada Terakota saat mengunjungi bengkelnya, Minggu (17/7).
Orangtuanya hanya buruh tani, karena tidak mau membebani ia focus belajar memotong, menggergaji, membubut, mengamplas, hingga mempelitur berbagai kerajinan kayu. Selama lebih kurang 7 tahun, Suparlan belajar dan “mencuri ilmu” dari bosnya tahun 2001 ia percaya diri membuka usaha sendiri.
“Waktu itu saya mikir, kalau Cuma jadi pegawai, hidup saya gini-gini aja. Tahun 2001 saya beranikan diri buka bengkel sendiri di halaman rumah orangtua. Ordernya perkakas rumahtangga dari bengkel lain,” papar Suparlan.

Modal kerjanya, peralatan bengkel ia beli dari uang tabungan. Saat itu, ia memperoleh pinjaman modal sebesar Rp 5 juta dari Bank Jateng dengan jaminan BPKB motor. Kala itu, ie bersama puluhan pengrajin muda di Blora mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten mengikuti pelatihan gratis ditambah bantuan modal dalam bentuk alat kerja.
“Kami juga diikutsertakan dalam berbagai pameran. Dari sana dapat orderan dan pelanggan baru. Karena pesanan makin banyak, saya mengajak dua adik saya mengelola usaha ini,” jelas Suparlan. Ia sampai mempekerjakan 50 karyawan (10 orang tenaga tambahan jika orderan banyak). Dalam sebulan gaji yang saya keluarkan untuk karyawan berkisar Rp 100 juta,” katanya.
Bengkel Suparlan sangat luas, terletak di Jalan Raya Blora-Cepu, Km 11. Selain untuk galeri, lahan bagian belakang diperuntukkan untuk menyimpan kayu-kayu dengan diameter besar yang jumlahnya ratusan. Selain kayu jati, ada juga Kayu trembesi yang khusus didatangkan dari Lampung dan Sumatera Selatan.
Untuk yang berdiameter 40-60 cm dengan panjang 4-6 meter biasanya dijadikan meja makan dengan harga jual belasan juta rupiah untuk yang dari Trembesi. Sementara Kayu Jati bisa mencapai Rp 50 juta. Saat ini ia belum mengekspor sendiri hasil produknya, masih melalui tangan kedua, pengusaha asal Semarang, Cirebon, Jogya dan Solo.

“Dikirimnya ke Eropa. Rata-rata omzet Rp 200-300 juta per bulan. Sementara saya menerima pesanan dalam negeri saja dulu. Ini saja kadang kewalahan. Ke depan, saya aharus melalukan pembenahan termasuk membangun bengkel yang representative jika ingin mengekpor sendiri,” ungkapnya.
Meski telah sukses, pria berpenampilan sederhana ini mengaku baru memiliki rumah setelah sebelumnya selama 17 tahun tinggal di rumah mertua. Saat ini ia fokus memperbaiki bengkelnya yang dibangun di atas lahan seluas dua hektare yang terbagi ke dalam 12 sertifikat. Total asset yang ia miliki lebih dari Rp 10 miliar dengan jumlah hutang permodalan Rp 1,3 miliar yang bunganya mencapai Rp 13,6 juta per bulan.
Suparlan optimistis, usahanya akan semakin berkembang seiring dengan tingginya permintaan pasar. Selain ingin membangun bengkelnya lengkap dengan show room yang bagus, ia juga telah mempersiapkan putrinya untuk kelak bisa meneruskan usahanya. “Saya kan cuma lulusan SMP. Pengetahuan saya terbatas. Anak sulung saya sekarang kuliah bisnis manajemen. Kelak jika ia lulus saya siap untuk mengekspor sendiri produk saya,” pungkas Suparlan.











