Pahlawan Nasional: Dr HR Soeharto Sebut Dua Penyakit Utama yang Diderita Bung Karno

bacalah.id – Pada Jumat pagi, 17 Agustus 1945, Bung Karno masih terlelap di kamarnya. Padahal puluhan pemuda telah berkerumun di halaman rumah, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. “ Pating greges,” katanya kepada dokter Soeharto yang menemuinya.
Soeharto yang menjadi dokter pribadi sejak akhir 1942 segera memeriksa kondisi tubuh Bung Karno. Panas-demam! Ia segera menyuntikan Chinine-urethan intramusculair. Juga mempersilahkan si Bung minum broom chinine. Obat tersebut untuk meredakan demam yang kerap menyerang Bung Karno bila terlalu lelah dan kurang tidur. Gejala itu timbul setelah Bung Karno terkena malaria tertiana saat berkunjung ke Makassar.
Kepada Fatmawati, dia meminta agar si Bung dibiarkan kembali untuk tidur 1-2 jam. Benar saja, saat dibangunkan sekitar pukul 9.30 wib kondisi Bung Karno sudah membaik. Dia meminta agar Soeharto memanggil Bung Hatta datang untuk mendampinginya membacakan teks proklamasi.
Saat melawat ke Flores pada pertengahan 1950-an, dokter Soeharto pernah melihat Bung Karno terpaksa merangkak keluar kamar tidur untuk buang air kecil. Si Bung merintih kesakitan karena ada beberapa batu sebesar kacang ijo yang turut keluar saat buang air kecil. “Peristiwa ini yang pertama kali saya saksikan,” tulis Soeharto dalam memoarnya, “Dr R. Soeharto, Saksi Sejarah Mengikuti Perjuangan Dwitunggal”.
Tapi Bung Karno tak pernah mau menjalani perawatan khusus di rumah sakit. Pemeriksaan intensif akhirnya baru dilakukan pada 7 Januari 1959. Diagnosa tim dokter menyebutkan ada kelainan pada buah pinggang bagian kanan. Dua hari kemudian, tim dokter merekomendasikan agar Bung Karno menjalani pengobatan di Rumah Sakit Universitas Lund, Swedia.
Tapi berbagai kesibukan dan kondisi dalam negeri yang kurang kondusif, rekomendasi itu tak pernah dilaksanakan. Pada 5 Oktober 1961, dokter Soeharto memberanikan diri menulis surat kepada Bung Karno mengingatkan tentang perlunya memeriksakan kesehatan secara intensif. Kali ini Bung Karno setuju. Pemeriksaan dilakukan di Wina, Austria oleh tim dokter yang dipimpin Prof Dr Fellinger dari Universitaa Kedokteran Wina.
Hasilnya, kondisi ginjal Bung Karno sudah benar-benar rapuh. Ginjal kiri si Bung diketahui sudah tak berfungsi. Fellinger menyarankan agar ginjal tersebut segera dibuang agar tidak merembet ke organ vital lainnya. Tapi Bung Karno menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan.
“Nanti saja jika Irian Barat sudah kita bebaskan,” jawab Bung Karno ketika Soeharto ikut menasihati terkait kondisi ginjalnya tersebut.
Selain sebagai dokter kepresidenan, Soeharto pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, hingga Kepala Bappenas di Kabinet Sukarno.
Selain untuk dr Soeharto, Presiden Jokowi pada Senin (7/11/2022) menyematkan gelar pahlawan nasional kepada KGPAA Paku Alam VIII, dr Raden Rubini Natawisastra, Salahuddin bin Talibuddin, dan K.H. Ahmad Sanusi.










