April 13, 2026
HEADLINE WISATA

Serunya Mendaki Gunung Butak di Malang Bareng Pasangan

Elvy   Yusanti
  • March 18, 2022
  • 3 min read

Myterakota – Mendaki gunung adalah salah satu olahraga yang menyenangkan. Selain mendapat nikmat sehat, bonusnya bisa memandang keindahan alam dan menikmati ketenangan suasananya. Mendaki bersama teman atau komunitas sudah biasa. Tapi bagaimana jika mendaki ditemani pasangan suami / istri.
Pasangan M. Tauhid (51) dan Endang ( 41 ) adalah satu dari banyak pendaki suami istri yang tinggal di Lawang, Malang, Jawa Timur. Setiap ada kesempatan, mereka mendaki bersama. Kadang hanya berdua, kadang dengan pendaki lain. Tidak sulit menentukan gunung mana yang akan didaki, karena di daerahnya banyak pilihan. Gunung Arjuno, Semeru, Panderman, Butak, Kawi dan Puncak Batu Tulis sudah mereka kunjungi. “Alhamdulillah kami memang senang jalan. Paling tidak sebulan dua kali ke gunung. Tujuan utamanya untuk olahraga dan menikmati keindahan alam. Biasanya kami tidak menginap,” kata Tauhid.

Ada banyak hal menarik yang mereka alami selama melakukan perjalanan berdua. Pernah pada suatu kali, saat dalam perjalanan tiba-tiba tidak bisa melangkah dan badannya tidak sehat. Akhirnya mereka terpaksa pulang dengan mengerahkan segala tenaga. “Saya memijat istri sampai saya menawarkan diri untuk digendong agar istri saya tidak kesakitan tapi ditolak. Akhirnya setelah melakukan perjalanan pulang dengan berat sampai juga di basecamp. “Ternyata istri saya sedang haid. Saya berseloroh, mungkin kakinya dipegangin sama jin jadinya nggak bisa jalan. Anehnya sampai di bawah sakitnya hilang. Sebagai pengalaman, kalau ke gunung jika sedang haid harus ditunda,” ungkap Tauhid.
Keindahan Gunung Butak.

Kejadian lainya yang dialami adalah tiba-tiba hujan badai saat kami ke Gunung Butak. Tiba-tiba angin besar datang, embun berubah menjadi es lalu kabut tebal. Kalau cuaca tidak mendukung, ungkap Tauhid, mereka harus bergegas turun. Pasangan Tauhid dan Endang sering dijadikan inspirasi para pendaki lain yang berpapasan dan akhirnya jalan bersama. “Anak-anak muda yang sering papas an bilang, suatu saat akan mendaki bersama pasangannya seperti kami, hehehehe,” ungkap Tauhid. Bicara soal stamina tentu pasangan yang menikah 22 tahun ini tak kalah dengan anak muda karena memang jam terbangnya tinggi.

BACA JUGA  Pemerintah Bangun Kampus Cabang King’s College London di KEK Singhasari

Salah satu gunung yang sangat berkesan bagi Tauhid adalah Gunung Butak. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Blitar ini memiliki ketinggian 2.868 mdpl. “Gunung ini memiliki keindahan di Sabananya yang luas dan terdapat mata air. Ada hamparan Edelweiss yang tinggi juga. Perjalanan sampai ke puncak sekitar 5 jam dari basecamp Gunung Panderman, Batu,” papar Tauhid.
Perjalanan menuju puncak juga tidak curam, cenderung datar. Meskipun trek aman namun ada jalur yang harus melintasi jurang. Menurut Tauhid pemandangannya sangat indah. “Saya paling senang jalur ini, sangat indah. Tapi hati-hati jangan sampai terpeleset karena bawahnya jurang,” katanya.

Selain itu, jalur baik yang akan menuju puncak maupun kembali ke basecamp hanya setapak. Untuk itu para pendaki jika berpapasan harus jalan bergantian. Jadi jalur ini berada di antara tebing dan jurang.
Dari foto-foto yang diabadikan Tauhid, terlihat pemandangan indah dan jalur pendakian yang tidak ekstrim. Pasangan Tauhid dan Endang sudah beberapa kali mendaki Gunung Butak. Jadi jika orang lain membutuhkan waktu 6 – 7 jam menuju puncak, mereka hanya memerlukan waktu 5.15 jam jalan santai dan sebentar waktu istirahatnya. “Gunung Butak favorit saya dan istri. Setiap pulang dari sana selalu ingin kembali,” jelas Tauhid. Nah, siapa yang ingin menjajal trek Gunung Butak ?

Elvy   Yusanti
About Author

Elvy   Yusanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *