Rhenald Kasali: Orang Kaya Itu Malu Membicarakan Kekayaannya
Fenomena crazy rich di Indonesia mendapat sorotan dari akademisi dan praktisi bisnis Prof Rhenald Kasali. Para crazy rich yang juga dijuluki sultan menjadi perhatian karena aktivitas mereka yang gemar memamerkan kekayaannya di media sosial. Berita terkini, beberapa di antara mereka diduga melakukan perjudian dan tindakan pencucian uang.

“Kok banyak orang kaya tapi dipamerkan. Orang kaya itu tidak berisik dan malu membicarakan kekayaannya,” kata Rhenald dikutip dari akun youtubenya uang telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali.
Flexing atau pamer kekayaan belakangan ramai dibahas. Berbagai pendapat sinis tertuju pada anak-anak muda kaya raya yang bersikap berlebihan. Beli nasi goreng 400 juta, menghadiahi istrinya privat jet, dan beli kendaraan mewah miliaran rupiah lalu dipertontonkan di akun media sosialnya.
“Dalam teori consumer behavior ada istilah poverty screen dan wealth whisper. Kalau orang masih melihat label harga dan mempersoalkan uang dia belum. Orang kaya diem-diem ajalah,”ungkap guru besar ilmu manajemen FEUI.
Dari beberapa perirtiwa yang ia saksikan tentang karakter orang kaya, Rhenald justru melihat hal sebaliknya dari yang dilakukan para crazy rich. “Saya pernah duduk di samping konglomerat di kelas ekonomi. Yang menarik, ketika makan di restoran semua orang dibayarin. Ternyata beliau masuk dalam daftar orang terkaya di dunia,” kata pendiri Rumah Perubahan ini.
Rhenald berpendapat, pamer kekayaan bukan hal lazim yang dilakukan orang kaya. Biasanya, makin kaya menginginkan privacy. Tentu kita masih ingat dengan kasus penipuan First Travel yang melibatkan pasangan suami istri yang akhirnya ditangkap polisi. “Rumahnya mewah, bepergian ke Paris, Italia pamer barang mewah. Ini mereka gunakan untuk membangun kepercayaan agar orang percaya dan menanam uang, ini yang dinamakan marketing signaling. Lalu mereka menggunakan uang customer untuk bepergian,” papar Rhenald.
Dalam teori Behaviour Customer ada istilah Conspicuous Consumption, komsumsi yang sengaja ditunjukkan ke orang lain. Mobil mewah, perabot mewah agar dikatakan orang hebat dan mendapat perhatian di media sosial. “Eh nggak lama kemudian akunnya di mention dirjen pajak,” selorohnya.
Masyarakat harus mewaspadai flexing yang dilakukan oknum untuk menarik perhatian dan djadikan ajang bisnis. Biasanya, kata Rhenald, mereka selalu menggunakan jargo uang/harta yang bisa dicari dengan sangat mudah. Dan tak jarang untuk membuat percaya, menggunakan pendekatan agama. “Kita masih ingat kasus Koperasi Langit Biru yang merugikan masyarakat senilai 6,6 triliun,” ungkap Rhenald.
Ia menilai ulah para crazy rich sebagai tidak memiliki empati. “Banyak orang susah akibat pandemi mereka malah terlihat foya-foya. Rhenald mengingatkan masyarakat agar berhati-hati merespons ajakan berbisnis dan harus memelajari sebelum mempercayakan uangnya untuk diinvestasikan.
“Saya menyarankan agar masyarakat tidak selalu mengejar uang. Percayalah, tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya. Jadi harus selalu belajar dan memiliki pengalaman sebelum menggunakan dana untuk berbisnis,” pungkas Rhenald.











