May 26, 2026
NEWS UPDATE PERENCANAAN KEUANGAN WISATA

Rhenald Kasali: PHK Go To Bukan Akibat Resisi

Elvy   Yusanti
  • November 24, 2022
  • 3 min read
Rhenald Kasali tegaskan PHK Go To Bukan Akibat Resisi. Foto: Twitter Rhenald Kasali

bacalah. Id – Pakar bisnis Rhenald Kasali memastikan, PHK di Goto baru-baru ini tidak ada kaitan dengan  resesi ekonomi global.  “Ancaman resesi global yang terus didengungkan, kalau dipercaya, bisa menimbulkan resesi sungguhan. Eksekutif yang kurang piawai bisa gegabah melakukan pemotongan besar-besaran, dan nanti bisa sebaliknya: menimbulkan Distrust dan penurunan kinerjakinerja, “ungkap Rhenald belum lama ini.

Ia menyayangkan pernyataan sejumlah pihak yang gegabah dengan menyebarluaskan ketakutan akan resesi yang seakan-akan sudah di depan mata. “Padahal “sesuatu” itu belum terjadi, tapi kita sudah dipaksa mempercayainya dan seakan sudah merasakannya. Itu namanya Trust Recession, bukan Economic Recession,” tambahnya.

Sebelumnya, Go To melakukan PHK terhadap 1300 orang atau sekitar 12% dari karyawannya.
Rhenald menjelaskan, resesi ada dua macam,  Economic Recession seperti yang dialami Inggris dan ada Trust Recession yang sekarang dipaksakan ke dalam otak kita seakan-akan resesi telah terjadi di Indonesia.

Penggagas Rumah Perubahan Jakarta Escape ini menjelaskan, Economic Recession adalah terminologi makro, yang ditandai dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi (negatif), dua kuartal berturut-turut. Rhenald menambahkan,  dalam ekonomi makro, resesi bukanlah sebuah aib karena merupakan bagian alami pergerakan ekonomi yang bersifat dinamis.

“Kadang perekonomian itu naik, kadang turun. Yang penting, saat turun lakukan langkah-langkah preskriptif secara disiplin. Lagi pula kalaupun resesi, dunia tak akan resesi selamanya,  kecuali mereka terlibat dalam konflik (perang) secara berkelanjutan,” tegasnya. Sementara itu, yang ramai diperbincangkan saat ini adalah resesi kedua yang dikenal sebagai Trust Recession, semacam quasi recession (resesi semu/palsu). 

“Ini adalah sebuah gejala psikologis yang datang dari rasa cemas atau takut yang berlebihan (dari orang yang menarasikan atau yang menyebarluaskan). Kadang gejala ini juga disebut sebagai the negativity bias, “katanya.

BACA JUGA  Kim Seon Ho Jumpai Fans Indonesia, Soenhohada Catat Tanggalnya!

Rhenald menjelaskan,  jika masyarakat percaya dan ketakutan, maka pengusaha akan melakukan deep cut. Bisa memotong anggaran, menutup usaha, menghentikan investasi, ekspansi atau berpromosi, melakukan penghematan, PHK, mengurangi stok, bahkan malas melakukan apa-apa. Akhirnya bukan saja terjadi resesi, melainkan terjadi stagnasi dan depresi, “paparnya.

Ia menegaskan, kalau benar Goto terdampak gejolak ekonomi global, tentu kinerjanya buruk, bahkan rugi. Faktanya, Pada akhir kuartal kedua 2022, Go To berhasil melakukan penghematan biaya struktural sebesar Rp 800 miliar.  Bahwa paska pandemi orang tak segencar berbelanja online seperti sebelumnya, itu bisa saja terjadi.

Tapi Goto punya kekuatan ekosistem keuangan yang solid mulai dari Midtrans sampai Moka yang menjamin solusi Online-Offline (O2O).
“Yang perlu diwaspadai sebenarnya bukan dampak resesi, tetapi dampak disrupsi yang akan menghilangkan sekitar 40% lapangan kerja menyusul kemajuan robotisasi, sehingga biaya robot telah turun 65% dalam 10 tahun belakangan, sementara biaya upah manusia rata-rata naik 8.5% pertahun, “ungkap Rhenald.

Dampak pengurangan SDM secara permanen akibat disrupsi digital yang harus diantisipasi mulai dari sekarang. “Setiap 1% pertumbuhan ekonomi bisa menciptakan sekitar 200 ribu lapangan kerja. Kedepan, paling tinggi sekitar 90 ribu. Perusahaan juga harus disadarkan bahwa keinginan bekerja fulltime generasi Z sudah di bawah 50%,”pungkas Rhenald.

Elvy   Yusanti
About Author

Elvy   Yusanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *