Film Sore, Istri dari Masa Depan, Pelajaran Tentang Waktu, Rasa Sakit, dan Kematian

bacalah.id – Sejak tayang perdana pada 10 Juli 2025, Sore, Istri dari Masa Depan telah menyedot perhatian publik. Hanya dalam dua minggu, film garapan Yandy Laurens ini sudah ditonton 2,8 juta penonton. Angka yang fantastis untuk sebuah drama romantis yang sarat pesan filosofis.
Bagi saya, ketertarikan menonton film ini berawal dari lagu Terbuang dalam Waktu milik grup Barasuara yang viral di media sosial. Liriknya, yang mengaduk-aduk rasa sakit sekaligus memelihara harapan cinta, terasa begitu selaras dengan inti cerita film ini.
Cinta, Masa Lalu, dan Kematian
Dibintangi Dion Wiyoko sebagai Jonathan dan Sheila Dara sebagai Sore, film ini mengangkat kisah seorang istri yang kembali dari masa depan demi menyelamatkan suaminya dari kematian akibat serangan jantung. Penyebabnya: gaya hidup Jonathan yang tidak sehat—minum alkohol, begadang, dan merokok.
Sore digambarkan sebagai sosok yang mencintai suaminya tanpa syarat. Dalam salah satu dialognya, ia berkata, “Jika aku harus menjalani sepuluh ribu kehidupan, aku akan selalu memilihmu.” Kalimat ini merangkum pengabdian tanpa batas, meski pengorbanan itu berujung pada kegagalan mengubah Jonathan. Sore menerima risiko sakit hati, kehilangan, bahkan kematian, demi tetap mencintai.
Marco, pemilik butik tempat Sore bekerja, menegaskan filosofi film ini melalui satu kalimat yang membekas: “Ada tiga hal yang tidak dapat dibatalkan oleh waktu: masa lalu, rasa sakit, dan kematian.” Film ini mengajak penonton merenungkan bahwa perubahan sejati hanya bisa lahir dari diri sendiri, bukan dari paksaan orang lain.
Visual, Lokasi, dan Fotografi yang Memukau
Mengambil lokasi syuting di Kroasia, Finlandia, dan Jakarta, Sore, Istri dari Masa Depan tidak hanya memanjakan penonton lewat cerita, tapi juga melalui visual yang indah. Karya fotografi Jonathan, yang dalam kehidupan nyata adalah hasil bidikan Dion Wiyoko di Arktik dan Ladakh memberikan sentuhan autentik sekaligus menambah kedalaman emosi pada film ini.
Film ini penuh dengan dialog yang bisa menjadi kutipan hidup. Beberapa di antaranya: “Tahu nggak kenapa senja itu menyenangkan? Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka, tapi langit selalu menerima senja apa adanya.” Ini adalah simbol cinta tulus yang menerima pasangan dalam segala kondisi.
Kutipan lainnya, “Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai.” Ada pesan kuat bahwa cinta adalah katalis perubahan sejati. Dan yang menusuk hati, kutipan, “Harusnya kamu tahu persis rasanya ditinggal… ujung-ujungnya kamu meninggal duluan.” Ini adalah ungkapan rasa sakit kehilangan yang begitu manusiawi.
Sore, Istri dari Masa Depan bukan hanya drama percintaan, tapi juga ajakan refleksi tentang keterbatasan manusia melawan waktu, rasa sakit, dan kematian. Lewat kisahnya, kita diingatkan bahwa menghargai waktu dan menerima kenyataan adalah bagian penting dari mencintai. Film ini mungkin akan meninggalkan perasaan getir sekaligus hangat. Getir karena kita menyadari tidak semua cinta bisa menyelamatkan, namun hangat karena kita tahu bahwa cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya, meskipun di masa depan.
Top untuk Film Sore, Istri dari Masa Depan, menyajikan cerita apik, akting pemerannya mampu mengantarkan penonton sampai ke makna cerita yang sesungguhnya. Tak ketinggalan, sinematografi besutan Dimas Bagus Triatma Yoga yang memukau dan editing karya Hendra Adhi Susanto yang yahud. Bravo Sinema Indonesia !











