April 16, 2026
HEADLINE INTERMEZO

Batik Basyori dan Kayuhan Sepeda Starling

  • March 21, 2022
  • 3 min read

Myterakota – Dibanding belasan pedagang starling (starbuck keliling) di sepanjang trotoar Jalan Sudirman, penampilan Basyori, 28 tahun, lain sendiri. Bila para pedagang lainnya cukup mengenakan kaos atau T-Shirt, celana jeans belel, dan sandal jepit, tampil bersih perlente. Lelaki asal Sumenep – Madura itu mengenakan kemeja batik lengan panjang, kopiah, pantalon chinos hitam, sandal biru berlogo Adidas, dan kaos kaki hitam.
“Saya berusaha menyesuaikan dengan lingkungan konsumen, Pak. Saya jadi gampang dikenali pelanggan,” ujarnya dalam logat Madura yang kental saat ditemui tak jauh dari Jembatan Pinisi, Sabtu pagi (19/3/2022).
Dengan penampilan seperti, ia mengaku pernah beberapa kali digoda sejumlah pegawai kantoran di sepanjang Jalan Sudirman. Ada yang mengatakan dia perlente melebihi mereka yang pegawai kantoran, ada juga yang mengajaknya untuk berfoto bersama. Basyori mengaku menerima semua itu sebagai bentuk apresiasi. Ia juga merasa termotivasi untuk selalu tampil bersih, dan terus menambah koleksi kemeja batiknya agar variatif.

Selain penampilan pribadi, sejumlah perlengkapan untuk berdagangnya seperti termos air panas, gelas plasik, dan lap kain di kotak penyimpanan juga terlihat bersih. Basyori pun tampak bercahaya seperti terbiasa terkena siraman air wudhu. Saat tertawa, giginya pun putih bersih seperti deretan biji mentimun.
“Ah biasa aja kok, Pak. Wajah saya begini karena jarang kejemur. Di sini kan trotoarnya sudah lebar sekali dan rindang,” ujar Basyori merendah.
Selain memberi jaminan soal kebersihan, Basyori juga memasang tarif lebih murah ketimbang pedagang yang lain. Bila yang lain mematok harga Rp 5 ribu untuk secangkir kopi, dia Rp 4 ribu. Toh, sering kali pembeli tak meminta kembalian. Kakak beradik, Rakha dan Kennaya yang menyodorkan uang Rp 10 ribu untuk nutrisari dan es teh manis, misalnya, menolak uang kembalian Rp 2 ribu dari Basyori.
“Artinya saya juga memberi kesempatan pembeli untuk bersedekah ke saya, Pak,” ucapnya tersenyum kecil.
Basyori mengaku sudah delapan tahun menjadi pedagang starling. Sebelumnya dia lebih dari setahun berjualan air mineral di sekitar Monas. Setelah punya sedikit tabungan, lulusan madrasah Aliyah yang masih melajang itu mengikuti jejak teman-temannya yang lain berjualan starling. Di awal, modalnya cukup besar: Rp 2 juta.
Modal sebanyak itu untuk membeli sepeda, termos air panas, termos batu es, cangkir plastik, dan aneka barang dagangan: 5 jenis kopi sachet aneka rasa, milo, nutrisari, teh celup, beberapa merek rokok, pop mi, kacang goreng, dan cemilan lainnya.
Sebelum pandemic Covid-19, ia mengaku biasa mengumpulkan pendapatan Rp 200 – 300 ribu perhari. Itu pemasukan bersih setelah dipotong untung makan dan membeli aneka belanjaan. Tak heran bila selama delapan tahun ini dia mengaku sudah punya tabungan lebih dari Rp 80 juta. Dua tahun ke depan, dia menargetkan tabungannya bisa mencapai Rp 100 juta. “Buat bangun rumah di kampung, kalau tanah sudah ada hampir 200 meter,” ujarnya.


Bila kelak sudah benar-benar punya rumah, anak ke-4 dari enam bersaudara itu baru akan fokus mempersiapkan diri untuk menikah. Dia merasa di usia 30 tahun pas untuk memulai rumah tangga.
Ditanya soal duka yang pernah dialami selama menjajakan starling, Basyori mengaku cuma was-was kalau ada aksi unjuk rasa besar-besaran. Setiap kali ada unjuk rasa, kata dia, tak selalu mendatangkan pendapatan lebih besar. Sesekali ada saja pembeli yang nakal tak mau membayar. Sebagai penjual, dia tak mungkin mengontrol semua pembeli bila mereka datang bergerombol dan saling serobot.
Razia Satuan Polisi Pamong Praja juga masih menjadi momok baginya. Beberapa hari lalu dia sempat lupa membawa dompet. Akhirnya sepeda starlingnya ditahan, dan dia harus mengambil KTP ke kontrakannya di Tanah Abang. Sejam kemudian dia kembali seraya memperlihatkan identitas pribadinya. Sepeda berikut dagangannya pun batal disita. Tapi begitu akan mengayuh sepedanya, pergelangan kaki kirinya tergores ujung besi pedal sepeda.
“Pedal untuk tatakan telapak kaki kiri sudah terlepas, tinggal besi lancipnya saja. Padahal sebelumnya tidak ada masalah,” ujar Basyori. “Besok hari Senin saya akan bengkel untuk pasang pedal baru,” imbuhnya. (Alex Wiraatmaja)

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *