Dari OB Jadi Jutawan, Kisah Sukses Egi Jamadi Pasarkan Rujak Cireng
Banyak kisah orang-orang sukses yang memulai usahanya dari bawah. Menemukan jalan hidup dan berada di posisi atas setelah survive dari himpitan ekonomi. Salah satunya Egi Jamadi, pengusaha muda asal Depok. Mungkin saat ini orang hanya memandang sisi keberhasipannya, padahal untuk mencapai itu semua, jalan yang dilaluinya terjal dan menguras air mata.
Tapi siapa yang menyangka, Egi yang sukses memasarkan Rujak Cireng ke seluruh Indonesia dengan omzet ratusan juta per bulan dulunya adalah hanyalah sales permen, karyawan bengkel dan jadi Office Boy di Radio Smart FM, Jakarta.
“Selepas SMA, karena nggak punya biaya untuk kuliah saya langsung cari kerja. Awalnya jadi sales yang keliling dari warung untuk memasarkan permen, lalu bekerja di bengkel mobil di daerah Slipi, Jakarta Barat tahun 1999 hingga 2002,” ujar anak sulung pasangan Jaenal dan Manih ini.
Adalah Bivie Arifin salah direktur di radio swasta tersebut yang mengajak Egi bergabung tahun 2002. Bivie adalah pelanggan di bengkel tempat Egi bekerja. Ia tidak pernah lupa kebaikan Bivie, yang memberikan pilihan kepadanya untuk bekerja dimana. Karena sadar tidak memiliki kemampuan yang cukup di beberapa divisi yang ditawarkan, akhirnya Egi menduduki pos di pantry sebagai Office Boy. Tugasnya adalah membelikan makan karyawan, mencuci piring dan membersihkan ruangan.
“Namun pimpinan di kantor melihat saya punya keinginan untuk berkembang. Hanya dalam waktu 3 bulan sebagai office boy, saya dianggap mampu bertugas menjadi operator. Tugas saya menjaga siaran radio terus berlangsung,” kenang Egi.
Kantor tempatnya bekerja adalah radio bisnis yang rutin menghadirkan motivator terkemuka sebagai narasumber. Sebut saja Tung Desem Waringin, Andre Wongso, atau James Gwee. Egi mengatakan, setiap hari ia mau tak mau harus mendengarkan kalimat motivasi, tips berbisnis dan kiat jadi pengusaha sukses dari orang-orang terkenal itu.
“Dulu rasanya saya pengen protes sama Pak Tung, bagaimana mungkin ada bisnis tanpa modal, nggak mungkin juga ada uang yang bekerja sendiri,” kata Egi sambil tertawa.
Di luar tugasnya, ia suka membaca buku-buku motivasi. Yang paling Egi suka adalah membaca kisah hidup pengusaha legendaris Bob Sadino. Sepak terjang Om Bob yang banyak dijadikan referensi orang-orang sukses ini begitu membekas di diri Egi. Makin dia baca makin membuatnya penasaran dan memantapkan dirinya untuk menjadi pengusaha.
Pasarkan Rujak Cireng
Sembilan tahun sudah Egi bekerja di stasiun radio. Meski istrinya juga bekerja sebagai guru, ia berniat menambah pendapatan untuk menutup kebutuhan dapur. Kebetulan, ada seorang ibu yang biasa disapa Mak, yang bekerja membersihkan sekolah tempat istri Egi mengajar membuat Rujak Cireng untuk dijual. Karena rasanya enak tidak seperti Cireng yang dijual di tukang gorengan, Egi tertarik memasarkannya. Satu lagi, cireng yang dimakan dengan sambal masih belum banyak yang menjual.
Di sela Egi bekerja sebagai operator, ia menawarkan Cireng ke teman-teman di kantor. Setelah era jualan online mulai marak diapun menjual secara online. Suka duka mengantarkan pesanan Cireng ditemani istrinya Aan Marlina kini jadi dijadikan pengalaman berharga.
Seiring berjalan, permintaan Rujak Cireng makin banyak. Bersamaan dengan itu pula, Egi mengalami PHK karena radio tempat ia bekerja diakuisisi oleh perusahaan lain. Dengan bekal pesangon, Egi akhirnya fokus menjual Rujak Cireng.
Selama 9 tahun menjadi operator, secara tidak disadari ilmu marketing dan kiat menjadi pengusaha membekas dalam benak Egi. Puncaknya adalah, ketika ia sebetulnya hanya mencoba peruntungan memasarkan Rujak Cireng di supermarket besar di Bandung dan akhirnya diterima sebagai pemasok tunggal dengan merek Brecxelle.
Kini Rujak Cireng Brecxelle tersebar di Jawa, Bali dan Sumatera yang memasok 70-80 bungkus per minggu dengan omzet ratusan juta per bulan. Prestasi Egi adalah menjadikan Cireng naik kelas. Makanan tradisional berbahan tapioka yang sebelumnya hanya bisa ditemui di penjual gorengan pinggir jalan, kini berjajar di supermarket dan dinikmati kalangan menengah atas.












