June 1, 2026
GAYA HIDUP HEADLINE

Lezatnya Sop Buntut dan Gurame Bakar Madu di Talaga Kuring

  • March 21, 2022
  • 4 min read

Myterakota – Beberapa kali melintasi kawasan Sentul City, akhirnya kesampaian juga untuk singgah ke Talaga Kuring, Minggu (20/3/2022). Dari pinggir jalan raya, restoran menu Sunda ini memang cukup menggoda untuk bersdantap bersama keluarga. Deretan saung di tepian danau yang cukup luas terlihat asri dengan rimbunnya pepohonan.

Tujuan bersantap di Talaga Kuring sebetulnya tanpa rencana dari jauh hari. Selepas nyekar ke makam si Mbah Putri-Kakung dan Pak Dhe bersama Bapak dan anak-anak, niat bersantap itu muncul tiba-tiba. Pemicunya adalah si bungsu, Mika, yang nyeletuk ingin menyantap ice cream yang yummy di Ikea, Sentul.
Setelah mendapat restu dari Ibu untuk mengajak Bapak ke Sentul, kendaraan pun langsung berbelok ke arah pintu tol Kukusan.

Ibu tak ikut nyekar karena ada sesuatu yang tak bisa ditinggalkan di rumah.
Menjelang pukul 11 wib, kami tiba di Talaga Kuring. Belasan mobil sudah berderet di parkiran. Kami memilih di saung ke dua. Jaraknya tak sampai 100 meter dari dapur resto tersebut. Si Bungsu, Mika, terlihat girang begitu memasuki saung yang bergoyang-goyang. Sepanjang menunggu menu pesanan datang, bersama kedua kakaknya mereka bercanda saling menggoyangkan saung. Rupanya tiap saung dilengkapi drum-drum sebagai ponton untuk membuatnya terapung.

Ketiga anak lelaki saya langsung menunjuk Gurame Bakar Madu (Rp130 ribu), Udang Bakar Madu (Rp 95 ribu), Sate Ayam (Rp 50 ribu), serta Tahu dan Tempe di buku menu. Sekilas Bapak sempat galau, antara memilih Sop Kambing atau Sop Buntut (Rp 85 ribu). Tapi kemudian dia memutuskan memesan Sop Buntut dan teh manis. Untuk nasi, semua sepakat memilih liwet yang dilengkapi teri, petai, dan cabe rawit merah di dalamnya. Satu kastrol (Rp 59 ribu) cukup untuk disantap lima orang dewasa.
Menu lainnya yang sempat kami baca adalah Pepes Oncom, Karedok, Sayur Asem, Gurame Rica-rica, Gurame Pecak, Kerapu Saos Mangga, dan lainnya.

Setelah semua pesanan dicatat pelayan, saya mengajak suami untuk berjalan mengitari danau. Sesekali kami berpose di atas bebatuan di pinggiran danau. Juga di salah satu sudut yang dipenuhi teratai. Persisnya di sisi yang berbatasan dengan lapangan golf. Setelah hampir 45 menit menunggu, akhirnya pesanan kami datang. Anak-anak takjub melihat dua lonjor gurame bakar yang ukurannya cukup besar. Saya menduga bobotnya hampir 1000 gram. Dagingnya tebal. Begitu juga dengan porsi Sop Buntut, ternyata lumayan banyak. Ada tiga gumpalan daging cukup besar selain beberapa potong yang sudah terlepas dari tulangnya. Juga beberapa iris wortel dan sayuran lainnya.

Penantian yang cukup lama terbayar dengan rasa yang lumayan cocok di lidah kami. Tingkah anak-anak dan suami saling mendahului untuk memotong gurame menjadi momen yang memberi kebahagian tersendiri bagi saya sebagai ibu dan isteri. Kebahagian itu kian membuncah kala diam-diam menyaksikan Bapak dengan lahap menyantap Sop Buntut. Di usia hampir 80 tahun, Bapak tak kesulitan melepaskan gumpalan daging dari tulangnya.

“Porsinya kebanyakan, Bapak gak sanggup ngabisin,” ujarnya. Secungkil nasi liwet di piringnya tak tersisa satu butirpun. Sejurus kemudian dia menyeruput teh manis, lalu membersihkan kedua bibirnya dengan tisu. Suami dan saya dengan sukarela menghabiskan menu sisa Bapak. Wajar bila Bapak terlihat sangat enjoy. Dagingnya memang empuk, lembut. Kuah sopnya juga yummy.
Di luar itu semua, kami punya catatan tersendiri. Selain waktu menunggu pesanan cukup lama, lebih dari 30 menit, tiap saung tak dilengkapi dengan intercom untuk berkomunikasi dengan resepsionis atau dapur. Hal ini menyulitkan saat kami hendak meminta tambahan menu. Memang ada kentongan di depan pintu masuk saung tak dilengkapi alat pukul. Andai pun ada alat pukul, kami tak yakin suaranya akan terdengar hingga resepsionis apalagi ke dapur.
Beberapa papan lantai saung ada yang sudah tidak terpaku dengan baik sehingga sempat terjungkit saat diinjak. Hal ini cukup berisiko jiga tak secepatnya diperbaiki. Atap saung juga sudah menganga sehingga dipastikan akan bocor saat hujan turun.
Keran untuk cuci tangan tak tersedia di setiap saung. Belum lagi suara bising kenalpot puluhan sepeda motor aneka komunitas yang wira-siri di jalanan.
Semoga manajemen Talaga Kuring tak keberatan untuk merogoh kocek membenahi kekurangan-kekurangan tadi. Itu bila ingin pengunjung menjadi pelanggan setia. Jika tidak, ya pasti akan memilih rumah makan tepi danau lain yang memang lebih oke….(Esti Larasati)

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *