Habib Husain Ja’far: Mau Hidup Normal, Ramadhankan Hidupmu!
Myterakota – Ramadhan adalah bulan spesial dan dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Berpuasa sebulan penuh, meningkatkan ibadah dan sedekah adalah sebagian hal yang dilakukan di Ramadhan. Puasa Ramadhan memiliki makna yang dalam dan memberikan pembelajaran religi yang penuh makna. “Puasa mengajaran kepada kita untuk sekali-sekali tidak mengambil hak (makan-minum) demi kebaikan yang lebih besar dari diri sendiri dan orang lain,” kata pendakwah dan penulis buku Habib Husain Ja’far Al Hadar dalam Podcact Daniel Mananta.

Pria asal Bondowoso ini menjelaskan, kebutuhan manusia untuk makan dan minum adalah hak. Selama ini, manusia terdidik untuk selalu menuntut hak makanya ada istilah Hak Azasi Manusia (HAM). “Tapi apakah ada istilah Wajib Azasi Manusia (WAM)? Di pikiran kita selalu hak hak dan hak yang diambil. Dunia ini sudah terlalu “bangsat” untuk berharap semua orang baik. Sehingga harus ada orang yang merelakan haknya (diambil),” kata Husain Ja’far.
Habib yang memiliki banyak followers di media sosial karena kajiannya yang rileks dan membahas Islam dengan jernih, dilandasi keilmuan ini menambahkan, seandainya dunia sudah baik, maka tidak akan ada orang yang kelaparan. Terlalu banyak orang yang rakus, jadi harus ada yang sedikit lapar agar semua orang sama-sama tidak lapar.
Habib Hasain Ja’far menambahkan, ketika bulan Ramadhan usai, orang sering mengatakan kembali pada kehidupan sehari-hari yang normal. “Padahal sesungguhnya kehidupan normal ya saat Ramadhan. Dimana Tuhan hadir dan mengontrol karena manusia hati-hati dalam menjaga lisan, tangan, semuanya. Itu yang normal, kerja produktif, ibadah jalan, dekat dengan Tuhan. Kalau ingin hidup normal, Ramadhankan hidup elu,” kata Habib yang mendapat tempat di kalangan milenials ini.
Pria keturunan Timur Tengah ini pun membagikan seni merayu Tuhan dalam melantunkan doa karena Tuhan tidak bisa didekte. Apa yang menurutmu baik belum tentu baik, Tuhan tahu mana yang baik nurutmu. Dikisahkan Sayidinah Ali pernah mengatakan, ketika doanya tidak dikabulkan dan Tuhan mennganti dengan hal lain maka beliau sangat bersyukur. Karena beliau menjalani hal yang menjadi ketentuan dan yang terbaik menurut Tuhan.
“Kita sering gagap dalam banyak situasi. Tuhan memberikan ujian agar kita kuat. Seni merayu Tuhan itu adalah doa mendekati Tuhan dengan indah. Kebenaran harus disampaikan baik dan indah. Kebenaran yang tidak disampaikan dengan baik bukan ditolak atau salah, tapi cara penyampaian tidak baik,”kata Husain Ja’far.










