January 23, 2026
GAYA HIDUP HEADLINE INTERMEZO NEWS UPDATE

Menikmati Sensasi Pijat Belerang di Pancuran Pitu Baturraden

Elvy   Yusanti
  • August 26, 2025
  • 4 min read
Pancuran Pitu mengeluarkan air panas mengandung belerang yang tidak pernah berhenti mengalir. Foto: Elvy Yusanti

bacalah.id – Purwokerto nggak cuma terkenal dengan kulinernya yang khas seperti Soto Sokaraja atau Mendoan, tapi juga menyimpan destinasi wisata alam yang eksotik. Salah satu yang paling populer adalah Kawasan Baturraden. Di area kaki Gunung Selamet ini terdapat banyak destinasi wisata alam seperti  curug, kebun raya dan hutan Pinus.

Salah satu yang wajib dikunjungi kalau ke Baturraden adalah Pancuran Pitu, sumber air panas alami yang mengalir langsung dari perut Gunung Slamet. Selain dikenal sebagai ikon wisata, Pancuran Pitu yang mengalirkan air panas mengandung belerang, dipercaya memiliki khasiat kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit.

Pancuran Pitu berada di kawasan hutan damar dan pinus, sekitar 2,5 km arah barat Lokawisata Baturraden. Lokasi ini bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi melalui jalan beraspal, meskipun ada beberapa bagian yang rusak dan naik turun. Untuk traveler yang suka tantangan, menuju Pancuran Pitu bisa berjalan kaki dari pintu gerbang Wana Wisata dengan jarak tempuh sekitar 5 km.

Namun jika menumpang kendaraan, traveler masih harus berjalan kaki sekitar 400 meter turun melewati anak tangga. “Lumayan anak tangganya, ada 250 pulang pergi,” kata Mas Adi, driver yang mengantar kami keliling Barurraden, Jumat (22/08/2025).

Air panas mengandung belerang juga dialirkan di sudut lain Pancuran Pitu. Foto: Elvy Yusanti

Air Panas dari Tujuh Pancuran

Setelah berjalan lebih kurang 10 menit dari pintu gerbang, tibalah kami di area Pancuran Pitu yang tidak terlalu luas. Kami disambut uap panas dari tujuh pancuran yang tidak pernah berhenti mengalirkan air mengandung belerang. Berbeda dengan uap belerang saat saya berendam air hangat di Ciseeng, Jawa Barat yang baunya menyengat, air panas di sini tidak berbau sama sekali. Pun berbeda dengan aroma belerang yang aromanya kuat saat naik ke Gunung Welirang, Jawa Timur. “Belerangnya memang tidak terlalu berbau meskipun ada kandungan besinya,” kata Mas Kuat, terapis yang menyambut kedatangan kami siang itu.

BACA JUGA  Sensasi Kuliner Nasi Gunung Slamet di Lereng Sang Raksasa Jawa Tengah

Sesuai namanya, Pancuran Pitu memiliki tujuh pancuran alami yang tak pernah berhenti mengalir. Batuan yang terkena air panas mengandung belerang berwarna kuning cantik. Airnya bersuhu sekitar 70 derajat celcius, kaya akan mineral dan belerang. Saya hanya kuat nggak sampai 30 detik berendam di air ini karena dominan panasnya, bukan hangat seperti air belerang di Ciseeng.

Mas Kuat sedang memijat menggunakan belerang yang dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit dan menyehatkan. Foto: Elvy Yusanti

Tak lengkap kalau ke Pancuran Pitu tanpa dipijit. Kami pun mencoba pijitan Mas Kuat dan Mbak Erni yang “muantap pisan”. Sebelum dipijit kaki kami diolesi dengan belerang yang berasal dari endapan air panas yang mengering menjadi serbuk belerang yang digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional.

Khasiat air belerang di Pancuran Pitu antara lain dipercaya membantu mengatasi penyakit tulang dan rematik, serta penyakit kulit seperti panu, kadas, hingga jerawat. Banyak wisatawan yang datang khusus untuk berendam atau sekadar merendam kaki sambil menikmati terapi pijat belerang dari warga sekitar.

Oiya, untuk yang mau mandi di Pancuran Pitu ada tempat tersendiri yang tertutup ya. Harga untuk pijat kaki Rp 20.000, Kaki dan tangan Rp 30.000, Seluruh badan Rp 50.000. Kami memilih pijat kaki dan tangan dengan durasi waktu lebih lama dan membayar Rp 100.000 untuk dua orang. Percaya atau tidak, setelah dipijit kaki jadi enteng dan kulit kaki jadi bersih. Mantap deh!

Legenda Pancuran Pitu

Jalur menuju Pancuran Pitu turun naik berjumlah lebih kurang 250 anak tangga. Foto: Elvy Yusanti

Tak hanya menyimpan khasiat kesehatan, Pancuran Pitu juga sarat dengan cerita legenda. Menurut kisah yang dituturkan warga setempat, tempat ini ditemukan oleh Syekh Maulana Maghribi, seorang penyebar agama Islam dari negeri jauh yang kemudian dikenal dengan sebutan Mbah Atas Angin.

Diceritakan, Syekh Maulana bersama pengikutnya, Haji Datuk, suatu hari melihat cahaya misterius di langit. Mereka berlayar untuk mencari tahu asal-usul cahaya itu, hingga akhirnya tiba di Pantai Gresik, lalu ke Pantai Pemalang, dan terus berjalan kaki ke arah selatan.

BACA JUGA  Sensasi Kuliner Nasi Gunung Slamet di Lereng Sang Raksasa Jawa Tengah

Dalam perjalanan, Syekh Maulana terserang penyakit gatal yang sulit disembuhkan. Suatu malam, ia mendapat ilham untuk menuju Gunung Gora. Sesampainya di sana, ia menemukan sebuah tempat yang mengeluarkan asap dan memiliki tujuh pancuran air panas. Ia pun berobat dengan mandi secara teratur di pancuran itu, hingga akhirnya sembuh total.

Sejak saat itu, tempat ini dikenal sebagai Pancuran Pitu. Warga sekitar lalu menghormatinya dengan sebutan Mbah Atas Angin, karena diyakini beliau datang dari negeri jauh. Makam Mbah Atas Angin berada di sekitar Pancuran Pitu yang menjadi catatan legenda di Baturraden.

Ikon Wisata Purwokerto

Dengan kombinasi antara keindahan alam, khasiat air panas, dan cerita legenda, Pancuran Pitu sudah lama menjadi ikon wisata Purwokerto. Tak hanya wisatawan lokal, banyak juga traveler dari luar daerah yang datang khusus untuk menikmati keunikannya. Oiya, untuk masuk ke Pancuran Pitu dikenai biaya Rp 20.000 di hari kerja dan Rp 25.000 di weekend atau libur nasional. Jadi, kalau kamu berencana liburan ke Banyumas, jangan lupa mampir ke Pancuran Pitu Baturraden. Siapkan stamina untuk menuruni ratusan anak tangga, nikmati kehangatan air panas alami, dan resapi kisah legendaris di balik tempat yang eksotik ini. ***

Elvy   Yusanti
About Author

Elvy   Yusanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *