Wanita Lebih Mudah Depresi Dibanding Pria, Ini Penjelasannya!

bacalah.id – Depresi adalah kondisi yang ditandai dengan rasa sedih yang berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya dilakukan dengan senang hati. Dikutip dari p2ptm.kemkes.go.id, kondisi ini ditandai dengan berhenti seseorang menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya selama dua minggu.
Orang awam sering menerjemahkan depresi sebagai kondisi yang terkadang tidak sesuai dengan yang sesungguhnya. Depresi bukan hanya perasaan sedih atau marah, namun terkait emosional, kognitif dan manifestasi fisik. Dr Sonny Chandra, SpKJ, Spesialis Kesehatan Jiwa RS Puri Cinere mengungkapkan, perempuan lebih banyak yang mengalami depresi dibandingkan pria karena pengaruh hormonal.
“Wanita yang mengalami depresi lebih banyak dari pria. Usia antara 20-40 tahun atau usia produktif,” ungkap Sonny dalam Live Instagram belum lama ini. Ia menjelaskan, banyak pasien perempuan yang berkonsultasi kepadanya karena mengalami depresi, sebagian di antaranya paska melahirkan. “Biasanya karena faktor keluarga, mertua yang mengintervensi dalam merawat anak hingga sering disalahkan. Atau masalah dengan suami yang terlalu sibuk sehingga menyerahkan urusan bayi kepada istri,” papar Sonny.
Studi tahun 2017 menemukan fakta, perbedaan gender terkait depresi muncul mulai usia 12 tahun. Anak perempuan dua kali lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan pria. Dikutip dari verywellmind.com, puncak gangguan depresi pada wanita bertepatan dengan masa reproduksi mereka antara usia 25 -44 tahun. Faktor risiko hormonal mungkin berperan. Estrogen dan progesteron telah terbukti mempengaruhi neurotransmitter, neuroendokrin, dan sistem sirkadian yang menyebabkan gangguan mood.
Wanita dapat mengalami gangguan mood yang berhubungan dengan siklus menstruasi seperti premenstrual dysphoric disorder (PMDD), gangguan mood yang ditandai dengan gejala depresi sebelum dimulainya siklus menstruasi. Hal ini juga berhubungan dengan hormon seks dan suasana hati.
Menopause dipercaya menjadi tanda penurunan risiko depresi seorang wanita menurun, periode peri-menopause (transisi alamiah ke menopause) adalah saat peningkatan risiko bagi mereka yang memiliki riwayat depresi berat.
Para peneliti telah menemukan fakta, perbedaan gender dalam sosialisasi dapat berperan dalam tingkat depresi. Anak perempuan umumnya disosialisasikan mengasuh dan peka terhadap orang lain, sementara anak laki-laki sering didorong untuk mengembangkan rasa penguasaan yang lebih besar. dan kemandirian dalam hidup mereka.










