Menembus Lorong Waktu Sejarah Indonesia di Museum BI

bacalah.id – Wisata sejarah selalu menarik, membawa kita ke peristiwa masa lalu yang memberikan pembelajaran penting untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Museum. Bank Indonesia (BI) adalah salah satu objek wisata sejarah terbaik di Jakarta yang bisa kalian kunjungi. Berlokasi di kawasan kota tua, Jalan Pintu Besar Utara, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat, museum ini berada di De Javasche Bank, gedung yang dibangun supaya 1828 dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Dijamin nggak nyesel kalau kalian kesini.

Meski gedung ini merupakan bangunan lama, namun suasanya nyaman, ditata dengan apik dan terlihat bersih. Para petugasnyapun ramah dan responsif menjawab pertanyaan pengunjung. Untuk masuk kesini pengunjung cukup membayar tiket Rp 5.000 untuk umum dan gratis untuk pelajar/mahasiswa dengan menunjukkan kartu identitas. Oiya, pengunjung tidak diperkenankan untuk membawa tas untuk masuk ke dalam, harus menitipkannya kepada petugas. Repot nggak sih harus bawa-bawa dompet dan handphone? Tenang, petugas akan meminjamkan tas plastik untuk menyimpan barang-barang kalian.

Memasuki museum, pengunjung “disambut” patung nasabah bank yang akan melakukan transaksi keuangan di bilik besi yang unik. Lalu kalian akan diajak memasuki lorong waktu perjalanan situasi politik dan ekonomi Indonesia sejak jaman masuknya Belanda yang mengincar rempah-rempah hingga situasi paska krisis moneter 1998. Era kelam, pergantian kepemimpinan setelah 32 tahun yang ditandai dengan merosotnya nilai rupiah terhadap dollar dan kerusuhan massal yang menelan banyak korban jiwa.

Jangan kaget kalau memasuki lokasi ini karena penerangannya minim dan ada beberapa patung yang mirip manusia hidup. Beruntung saat kesana Jumat (9/12/2022) ada empat mahasiswa jurusan pariwisata Universitas Bunda Mulia, Tati, Manda, Albert dan Vikram yang sedang mengerjakan tugas kampus. Akhirnya saya mengikuti mereka sambil ngobrol dan berdiskusi. “Jujur saya lebih suka ke museum dibanding ke mal. Ke mal kan gitu-gitu aja, kalau kesini kita dapat pengetahuan karena belajar sejarah,”kata Tati dan Manda.
Teknologi canggih
Museum BI mengadaptasi teknologi canggih, ada layar proyektor multimedia untuk memberikan informasi peristiwa masa lalu yang didesain berdasarkan periode pertumbuhan ekonomi. Mulai masuknya pedagang dari Arab dan Eropa yang masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu penutupan 16 bank tahun 1997-1998 akibat krisis moneter, kerusuhan Mei 1998 hingga memasuki era stabilitas ekonomi.

Semuanya digambarkan dalam bentuk foto, barang-barang bersejarah, patung dan penjelasan melalui tulisan, audio visual dan video. Sangat lengkap dan detail, ditambah efek lampu yang menarik sehingga membuat pengunjung merasa mendapat pengalaman baru. Seperti periode kerusuhan Mei 1998, ada benda-benda yang dipajang di etalase kaca sepatu bahkan motor yang rusak digantung di ruangan ini, seperti ingin menjelaskan tragedi Mei adalah mimpi buruk yang tidak boleh terulang. “Saat Mei 1998 kita belum lahir, hanya membaca di internet bagaimana kejadiannya. Serem banget, ” kata Manda.

Empat mahasiswa ini mengaku baru pertama kali ke Museum BI. Menurut mereka museum ini salah satu yang keren, bersih, modern dan menjawab informasi yang dibutuhkan. “Sepertinya pencahayaan diatur sebagaimana situasi yang terjadi. Dari gelap kemudian sampai di ruangan ini yang lampunya sangat terang, “kata Manda saat berada di ruang yang terdapat patung H. Samanhudi, pendiri Syarekat Dagang Islam.

Museum BI memiliki replika kegiatan banker dan koleksi uang yang bernilai tinggi. Pengunjung juga bisa menyaksikan tempat penyimpanan emas batangan seberat 13,5 kg yang dibuat replikanya. Pengunjung juga bisa mengelilingi gedung jaman kolonial ini sambil foto di banyak spot yang menarik dengan arsitektur menawan yang didominasi warna putih.
Siang itu Museum BI ramai pengunjung, ada sekelompok murid-murid SD yang sengaja datang bersama orangtuanya atas inisiatif sendiri. Mereka mengaku senang karena bisa melihat foto, gambar dan benda bersejarah untuk menambah pengetahuan. “Tapi serem karena gelap, ” kata mereka diamini orangtuanya. Ada juga empat siswa SMK di Depok yang asyik berdiskusi sambil sesekali foto. Mereka mengaku mengetahui Museum BI dari aplikasi TikTok.

Sebetulnya masih banyak hal menarik yang bisa diceritakan. Kalau kalian penasaran bisa datang langsung ke Museum BI. Sekalian menjelajahi obyek wisata bersejarah lainnya di kawasan Kota tua. Oiya lokasi Museum BI sangat strategis, tepat berada di seberang Stasiun Jakarta Kota. Untuk sampai kesini juga bisa menggunakan Bus TransJakarta. Kalian akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman berharga.











